A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Monday, September 8, 2014

Sedikit Tentang Saya

Saya serpihan yang hilang darinya. Masih belajar melihat dan mendengar. Bagian dari yang besar, bagian dari yang kecil. Tercatat sebagai ‘Kemuliaan yang Bercahaya’ versi Timur Tengah atau ‘A Lighted Magnificence’ versi Oxford. Pertama kali ada pada bulan pertengahan kedua setelah 49 tahun kemerdekaan bangsa diproklamirkan. Dapat ditemui di kota pesisir perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Namun sedang menggenapkan pendidikannya di Inang Terbesar dan Ternyaman Castle(baca: disingkat) di bilangan kota antara dua provinsi.Tak berharap banyak dan lebih, hanya yang terbaik yang benar-benar datang. Dan anda, tetaplah jadi cermin bagi saya. Saya tak akan nyata tanpa anda.

Monday, August 18, 2014

Zero Point

Saya itu gusar ya, katanya banyak kolega yang mengeluh dipersulit masuk PTN/UIN di Indonesia. Padahal syarat sudah lengkap, bekal sudah siap, tinggal mak ‘plung’ kok ya ada saja keribetan tambahan. Ujian tambahan lah, ikut paket C lah, tanda tangan ini-itu lah, uang lagi lah. Bah.

Sebetulnya sih tidak ada yang dipermasalahkan. Hanya saja, mata orang lain selalu menangkap hal-hal terkecil dari orang lain. Sekasat apapun mata tak bisa melihat. Sesepele hal yang bertele-tele. Dari situ, orang saling menilai untuk kemudian menyalahkan dan terjadilah perselisihan persepsi. Sesederhana apakah ia layak diterima suatu kampus apa tidak. ~hah, napas bentar.

Beberapa waktu lalu, saya mengambil kursus singkat di salah satu daerah di Indonesia. Saya tidak pernah menyangka endingnya akan sangat mengharukan. Awalnya saya juga tidak begitu yakin apakah saya benar-benar akan mendapatkan teman. Apakah saya bisa menerima-diterima. Apakah mereka menyenangkan, dll. Saya tidak pernah berharap lebih, tapi justru saya mendapat lebih. Saya sungguh bersyukur. Kami hanya ber 23, namun dalam waktu 10 hari saja kami meninggalkan kesan kehilangan yang teramat. Ketika kami berpisah kami benar-benar merasa ada yang hilang. Padahal itu hanya sekedar kursus, bukan sekolah. Hanya sepuluh hari, bukan berbilang tahun. Tapi kami telah memiliki satu sama lain. Kenapa? Karena kami sama-sama memulainya dari NOL. Kami menyetarakan rasa dan membangunnya dari awal. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua sama meski usia membilang tidak.

Saya sendiri memilih mencoba menjadi NOL di setiap tempat baru. Saya melakukannya bukan tanpa alasan. Lebih karena saya menghormati sekitar. Jika kita sama-sama berada di titik nol, kita lebih mudah untuk ‘berbentuk’. Keakraban dan suasana yang menyenangkan akan lebih bisa diciptakan. Orang lain pun akan lebih bisa ‘menerima’. Dan kita bisa lebih menguasai keadaan.

Menjadi nol, bukan berarti tak memiliki harga. Namun siap dengan landasan dan pondasi untuk keadaan yang akan kita hadapi setelahnya.

Saya tidak berkata KOSONG lho ya, tetapi NOL. Sekali lagi, kosong tidak memiliki. Sedangkan nol masih bernilai. Nol, dapat digambarkan dengan sebutir telur. Telur tidaklah kosong. Kita tidak pernah tau seberapa penuh isi telur. Tapi ia terlihat nol diluar. Nah, jadilah orang yang me-nol-kan diri ketika memulai sesuatu. Bukan akal, tapi penampilan. Kita tidak pernah tau bukan, bagaimana nantinya. Apalagi di lingkungan yang baru, jangan sekali-kali sotoy atau yahanu. Hindari hal-hal yang membuat anda menjadi episentrum perhatian orang karena bualan. Dan ingatlah, tong kosong itu biasanya nyaring bunyinya.

Who cares, kita kemarin ‘siapa’ atau ‘apa’ di sekolah yang lalu. Terus orang harus bilang WUAOW gitu kalo kemarin anda Ketua Organisasi ‘anu’? kalau anda Bagian ‘inu’ yang sangat disegani? kalau anda panggilan pertama yudisium? Toh sekarang sama-sama berstatus calon mahasiswa/mahasiswi. Balik ke nol lagi.

Sama saja kok, sehebat apapun kita ‘di dalam’ , kita harus memulai dari nol lagi ketika sudah ‘keluar’. Nggak usah bawa-bawa nama almamater kemarin. Apalagi kalo bawanya pake ember, trolley gitu. Nggak, nggak usah. Anda sekarang individu baru. Lagian, bukankah seharusnya nama anda yang memberikan sumbangan untuk keharuman almamater? bukan almamater yang membesarkan nama anda?

Sekarang ini, belum saatnya menjadi shooter gan. Lebih baik membaur seperti bunglon, menyamakan warna. Menjadi invisible sambil menyadap semua data. Udah keren?.


Jadi, jangan terlalu tinggi hati fellas. Justru kerendahan hati, yang menjadi penolong masa depan. Biarkan waktu yang membuktikan, seberapa ‘jauh’ kita telah melangkah. Biarkan orang berdiri mengapresiasi dengan sendirinya tanpa anda harus capai meneriaki. Buktikan, itu perlu. Buktikan dengan karya, dengan tindakan. Tapi nanti. Jadilah seperti gelas yang siap diisi. Harus siap diisi tanpa merasa penuh. Gelas yang setengah isi, tapi juga setengah kosong.

Saturday, August 16, 2014

Seremonia Pergi

Seremonia pergi dan meninggalkan itu selalu berbekas menyakitkan. Akhir-akhir ini, kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Setidaknya 10 kali dalam waktu kurang dari 15 hari. Dan di setiap perpisahan tersebut, saya selalu menjadi pihak yang ditinggalkan. Entah jauh, entah dekat.

Banyak teman yang pergi, lebih tepatnya pindah. Err, yah, pindah dan pergi. Pindah kamar, pindah sektor, pindah prodi hingga pindah kampus. Semua seolah kembali pada garis takdirnya kembali. Merajut asa yang baru, hari baru, semangat baru.

Saya sih masih tetap di sini. Tidak beranjak sedikitpun. Terlihat seperti tidak ada yang berubah. But everything has to be change, right?

Saya mulai dari diri saya, saya mulai dari yang terkecil, saya mulai dari sesuatu yang paling tidak saya sukai. Saya mulai berubah. Hidup sendiri adalah perubahan. Perubahan itu ibarat air. Air itu terus mengalir. Pilihannya, apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan atau berdiri di luar pagar permainan? kata Bang Steve Jobs sih gitu.

Tentang pergi, saya juga mulai berubah menyikapinya. Saya nggak perlu repot nangis bombay melepas satu per satu teman yang pergi. Saya akan tetap disini, menjadi tempat berpulang mereka. Menjadi ‘rumah’ bagi yang pergi. Menjadi tempat kembali. Datanglah kapanpun, guys. I’ll be there by heart beat. Cieh.

Satu lagi tentang kepergian, pasti akan menyisakan kehilangan. Selalu, lost is realized when something go after we had along time together. Angkatan kami, baru saja berduka atas kepergian salah seorang teman kami. Mujahidah, Insya Allah. Ia dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan, kalem dan tidak neko-neko. Ia pun telah menyempurnakan separuh dien nya dua tahun terakhir dan akan melengkapi kebahagiaannya dengan seorang putri. Sayang, ia tidak sempat melihat putrinya lebih lama. Tuhan merindukannya, Ia pun memanggilnya. Memintanya ‘pulang’.

Ah, pergi. Akankah saya ‘pergi’ juga dalam waktu dekat? Entah. Yang pasti, setiap calon ibu rela ‘pergi’ demi anaknya ‘tinggal’.

Selamat jalan Siti Rohmah.

Kamu pulang, dalam rumah abadi. Dan akan menjadi ‘rumah’ kita nanti. Ila-al-liqo’ fi firdausihi, ukhti.

Untuk teman ipar kami, Mr. Siti Rohmah, susut  air matamu. Jangan lagi mengais kesedihan. Putrimu ada karena istrimu. Si kecil masih membutuhkanmu. Berjanjilah kau akan mengantarkannya untuk menemui ibunya di surga. Maaf, kami tak bisa ikut mengantar Rohmah pulang. We have nothing but the pray always. And I especially. I just have this. Semoga dapat mewakili teman yang lain.

Thursday, June 12, 2014

Selamanya Muda


Mimpi maupun harapan merupakan alasan terbesar untuk hidup. Sadar nggak sadar, lewat ‘pingin-pingin’ itu kita mau bangun dari tidur. Kita mau berbuat dan kita mau berkorban. Kita ingin jadi bintang kelas, maka kita harus berangkat sekolah dan mematuhi peraturan. Kita ingin sarapan pecel, kita harus beranjak ke penjual nasi pecel dan merelakan tiga lembar uang ribuan. Harapan gebetan ngelirik juga lah yang membuat anda mau mandi setelah sekian lama puas dengan cuci muka dan sikat gigi saja.

Saya pernah membaca, tentang seseorang. Dia mempunyai mimpi untuk mencapai puncak Gunung Rinjani. Ia pun dengan teman-temannya kemudian melakukan persiapan untuk menaklukkan salah satu gunung tertinggi tersebut. Setelah mendaki berhari-hari, dihalangi oleh ranting yang mengular, kabut yang meyesakkan paru, sedikit lagi-sekitar perjalanan sehari, ia bisa melihat sunrise di puncak gunung. Tapi, apa yang terjadi kemudian membuat saya benar-benar kecewa. Ia memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan dan justru mempersiapkan diri untuk turun. Ketika ditanya mengapa, ia  menjawab:

Jika saya sampai pada puncaknya sekarang, maka saya akan merasakan kepuasan dan tidak lagi mempunyai keinginan untuk mencapainya kembali. Biarlah seperti ini, sehingga saya masih tetap mempunyai mimpi untuk mendakinya lagi dan lagi. Dan ia pun turun.

Entah bagaimana saya harus menggambarkan perasaan orang-orang seperti itu. Saya sendiri selalu ingin sepertinya. Hidup yang dipenuhi mimpi-mimpi yang belum tercapai. Hari-hari yang padat dengan rutinitas sampai membuat saya kecapekan. Hari-hari dimana saya harus bekerja keras dan menguras tenaga. Waktu yang selalu terasa kurang untuk membaginya dengan banyak orang yang harus ditemui. Dan berbagai pencapaian yang ‘tidak harus sampai pada puncaknya’. Saya sangat menikmati hidup seperti ini dan tidak ingin melepaskannya.

Terkadang, saya merasa khawatir. Saya menghawatirkan, bagaimana jika semua mimpi saya telah tercapai? Apa pencapaian saya selanjutnya? Apakah saya sudah tak mempunyai mimpi untuk diperjuangkan kembali? Kalau begitu, hidup saya tinggal sebentar lagi dong? Hidup saya pastilah akan hambar dan datar-datar saja. Karena saya toh sudah mendapat apa yang saya mau selama ini.

Walaupun, jika mau berhitung, saya sudah mendapat comfort zone saya. Apa yang orang dapatkan di masa senja telah saya genggam di masa yang terbilang muda-jika tak mau dibilang bocah.

Tapi saya kembali berpikir. Jika usai sudah mimpi-mimpi kita, kenapa tak menciptakan mimipi-mimpi baru? Bermimpi lagi, dan berangan lagi. Berharap lagi dan berusaha lagi. Meskipun toh mimpi-mimpi baru itu tak sebesar mimpi-mimpi sebelumnya.

Comfort zone memang selalu menjerat. Ia layaknya candu yang melenakan. Banyak orang yang ketika telah mendapatkan comfort zone nya, ia susah untuk bergerak. Melepaskannya pun tak kuasa.

Begitu juga dengan orang yang mempunyai mimpi yang menjulang. Meski toh ia termasuk orang yang susah puas, ia akan mencapai batas limitnya suatu saat. Batasnya adalah langit. Langit berhak berkehendak apapun. Membuat seseorang bertuah atau membuatnya terjungkal.

Begitulah masa muda, masa puncak keinginan. Masa puncak di mana mimpi banyak bertebaran dan menuainya. Masa dimana saya mampu merentangkan sayap selebar-lebarnya. Masa dimana dada saya sesak oleh kebahagiaan.

Ah, kalau bisa saya ingin menghentikan masa. Saya sangat bahagia saat ini. Dan ini umur paling hebat yang pernah saya rasakan. Andai, waktu mau berhenti. Berhentilah di sini saja.


Friday, May 16, 2014

Penguasa Masa Depan


Jika ditanya siapa idola anda ? Siapa motivator terbaik anda?

Saya akan jawab tanpa berpikir dua kali. Saya akan jawab: Profil saya di masa depan.

Membaca masa depan, terkadang perlu dilakukan untuk menata langkah dari sekarang. Membaca di sini bukan berarti meramal nasib, membaca zodiac, shio, semacamnya.

Membaca masa depan bisa dilakukan dengan melihat dari pengalaman-pengalaman orang diatas kita. Bisa juga dengan prediksi baik dan buruk semua kemungkinan.

Membaca masa depan bisa dengan berkaca pada orang tua kita. Walaupun, well, tidak semuanya akan linear dengan garis-garis yang telah beliau guratkan. Tak ada salahnya menuruti arahan beliau. Sungguh. Itu bahkan pencapaian luar biasa anak paling berbakti pada orang tua. Ridha Tuhan telah tersampaikan pada anda lewat orang tua anda. Tak ada yang lebih hebat dari itu semua.

Manusia selalu punya rencana terbaik dalam hidupnya. Sedetil yang anda pikirkan, serinci yang anda inginkan. Anda boleh mengatakan anda telah menguasai hari esok. Harapan telah tergenggam. Strategi tersusun matang. Tapi jangan anda tinggalkan Causa Prima dari setiap jengkal kehidupan. Ia selalu ada. Ia selalu menjadi faktor x yang sering anda abaikan. Kecil, yang sebenarnya teramat besar. Ia, Sang pemegang kendali atas jalan hidup anda.

Berbincanglah dengan-Nya. Mintalah pendapat-Nya. Selalu libatkan Dia di setiap tarikan nafas anda. Mengingat-Nya saja, seberapa seringkah anda sadari?

Tak ada yang melarang anda bermimpi. Bebas. Tuliskan semua awan penuh angan anda. Tak ada yang meneriaki anda ketika mengisi dreambook anda. Tapi, setelah selesai, jangan lupa serahkan pensil dan penghapusnya kepada Tuhan. Biarkan Ia yang menghapus mana yang tidak perlu dan mengganti mana yang perlu diganti dengan yang lebih baik. Ia selalu punya kejutan hebat dan menarik untuk setiap hamba-Nya. Percayalah.
Menjadi Penguasa Masa Depan

Anda tahu apa yang anda inginkan unuk masa depan. Anda sendiri yang akan menjalani peta yang mulai anda lukis dari sekarang. Bantuan orang lain selalu bersifat terbatas. Dan hei, sadarlah. Akses menuju masa depan telah dimonopoli oleh anda, Penguasa masa depan. Maka, bersiaplah untuk menata langkah dari sekarang.

Dan, jika orang lain masih saja kepo atas rencana-rencana anda, katakan kepada mereka :


Saya sudah memperkirakan sedetil mungkin. Kalaupun nanti toh masih ada bagian yang berlubang, biar Allah yang melengkapinya.

Saturday, May 10, 2014

Lebih dari Dua Dunia

Selama ini, saya selalu berpikir bahwa hidup saya terlalu monoton. Hampir seluruh waktu, saya habiskan di pondok. Pendidikan formal (negeri) hanya sebatas SD dan SMP.Itupun juga nyambi jadi anak pondok.

Iya, mulai SMP saya sudah mondok. SMA nya di pondok. Universitas pun juga di pondok. Sampai saat ini, saya sudah mengantongi angka 8 untuk kehidupan di pondok. Saya nggak nyangka, ternyata jumlahnya dua kali lipat dari waktu yang saya habiskan di rumah.

Nah, ternyata kondisi kayak gini punya pengaruh besar terhadap keberagaman teman saya. Bisa dibilang, saya hanya punya 2 kelompok besar teman. Teman masa SMP-non pondok dan teman ketika di pondok.

#1 CHAZPER (rek, ini nama kok alay banget ya ternyata :P)

Ini teman-teman saya ketika SMP. Kami teman sekelas, terdiri dari 24 anak. Tidak berubah dari awal masuk sampai kelas sembilan. Pun dengan nomor absen yang sangat kami hafal sampai sekarang. Seringkali, nomor-nomor tersebut malah kami jadikan nomor keberuntungan kami.

Saya memang hanya teman SMP mereka. Pastinya, teman SMA selalu lebih seru ketimbang teman masa ababil.Tapi buat saya pribadi, mereka adalah ‘sesuatu’ bua tsaya.Merekalah ’pengalaman’ saya. Mereka adalah harta saya. Saya nggak pernah menyangka, kelak saya sangat berterima kasih pernah dipertemukan dengan mereka. Paling nggak, mereka yang membawa warna lain dalam dunia pondok saya.

-Yang ini masuk ke sub kecil-

#Temansepermainandarikecil
Dulu, saya punya trio. Kesemuanya lebih tua dari saya. Kami, sebagai trio yang kompak, suka runtang-runtung kemana-mana bareng. Suka pake baju kembar 3, saling tukar kado, saling mengunjungi rumah satu sama lain, dan saya kecil bahkan rela membagi bapak-ibu saya untuk dipanggil ibu dan bapak juga sama mereka. Sampai saat ini, kami masih sering kontak meski lebih sering menjadi duo saja. Namun ternyata, yang duo ini yang awet. Dari dia-lah saya mempunyai sosok kakak.  Karena dialah saya bisa dipanggil dan diperlakukan sebagai ‘dek’.

#2 TemanPondok (GontorPutri-masa sepantaran SMA)

Semenjak saya masuk Gontor, paling tidak saya mengalami resolusi besar jumlah teman sebanyak empat kali. Actually, sudah lebih dari 10x. Itu ples yang kecil-kecil sih. Karena di pondok kami, setiap tahun terjadi rolling kamar dan asrama.

Jika ditotal, inilah jumlah teman seangkatan saya di Gontor:

Kelas 1-6  Gontor Putri 1 (termasuk Gontor Putri 4 dan 6): 487
Sebagai tenaga pengajar: 137
Ini belum jumlah dengan teman di Gontor Putri 3 dan Gontor Putri 5.

Teman Gontor juga bisa dibagi dua golongan besar lagi. Yang kelahiran ’94 dan ’95, dan sebagian kecil kelahiran ’96. Jadi, saya terhitung telat setahun sehingga seangkatan dengan adik kelas. Normalnya, sekarang saya  semester 4, tapi saya masih semester 2. Bahkan, senior saya di pondok dengan umur yang sama sudah ada yang masuk semester 6. Dan ugh, jadi maba diantara temen yang sudah masuk ‘senior’, betul-betul masa ospek tersendiri buat saya.

Meski moto angkatan kami one heart, one thought, one dream, one direction, setiap dari kami toh pasti berbeda. Setiap orang punya kelebihan dan keunikan tersendiri. Bahkan, meskipun semua bakat dan skill ada dalam angkatan kami. Tapi tetap saja, bagi saya, kami ‘sejenis’.

Begitulah, mengapa kehidupan saya cuma terdiri dari 2 dunia saja. Dunia pondok, dan dunia bersama teman SMP. Saya jenuh se-jenuh-jenuhnya dengan pergaulan yang terbatas. Jika saya bosan dengan dunia pondok, saya hanya punya satu dunia lain sebagai tempat pelarian. Nah, ketika saya bosan dengan keduanya? Saya hanya bisa sendiri dan gigit jari.

Hal ini baru saya rasakan ketika saya masuk jenjang perkuliahan. Dunia terasa sempit. Saya nggak tahu dan nggak ada referensi tentang dunia perkuliahan. Saya ingin mendapat tempat yang tepat untuk kuliah. Karena ketika kita sudah berpredikat sebagai mahasiswa, orang mulai terasa mengakui kita. Keberadaan kita mulai dianggap dan kontribusi kita mulai dinanti.

Untuk menentukan kuliah, jurusan dan kampus saja misalnya. Saya pastinya butuh banyak masukan, pertimbangan, dan referensi. Saya nggak bakal tahu kalo saya selamanya ada di pondok dan berteman dengan orang-orang pondok. Mereka juga sama dengan saya yang belum merasakan dan berpengalaman dengan dunia luar pondok ketika kuliah, terlebih memilih kampus. Intinya, no solution.

Dari situ, saya semakin peka terhadap keberadaan teman di sekitar saya. Siapapun itu, ternyata bisa dijadikan satu dunia tersendiri yang berbeda. Saya nggak menyesal tidak hidup di luar pondok, karena saya bisa membuat dunia saya sendiri dengan orang-orang terdekat saya. Maka, tengoklah sekitar anda, terlalu banyak dunia yang bisa diciptakan, terlalu banyak cerita yang dapat dirangkai. Tergantung dengan kacamata apa anda melihatnya.

Hidup dalam pondok terkadang terasa seperti katak dalam tempurung. Untuk itulah saya sangat bersyukur atas kepernahan saya hidup di luar pondok, meski hanya sebentar. Saya memang tidak bisa menyingkirkan tempurungnya, tapi saya masih bisa membuatnya menjadi transparan.

Walaupun saya cuma punya 24 orang di chazper, tapi itu sudah worth it. Setiap dari mereka telah menjadi satu dunia buat saya. Semenjak itu, saya mulai merentangkan tangan, melebarkan sayap pergaulan seluas-luasnya. Mencari teman sebanyak-banyaknya. Teman dari dunia yang berbeda. Sehingga saya punya lebih dari satu cerita, saya punya lebih dari satu dunia.

Terimakasih teman :)

Monday, April 14, 2014

UTS-Benar-benar Ujian Tidak Serius

Datang lagi hari dimana pelajaran Hadits telah dijanjikan dengan UTS. Sebelumnya, UTS sempat ditunda karena dosen terlalu letih sehabis perjalanan jauh. Entahlah untuk hari ini, apakah akan tetap UTS atau ditunda lagi. Yang pasti, saya nggak belajar, nggak hapalan. Hari itu saya ingin merasa  berbahagia. Bawaannya pengin main terus. Jadi saya nyante senyante-nyantenya sepanjang sore. UTS nya sendiri dimulai selepas isya’. Masih lama. Saya berpositive thinking bahwa semua akan baik-baik saja.

Jam tujuh tepat, kami disuruh masuk. Bukan hanya 6 orang seperti yang sudah dijadwalkan perkelompok. Tapi 2 prodi. Okelah, kita masuk. Sepertinya akan diberikan materi tambahan. Saya mulai tersenyum tenang. Bayangan UTS mulai tampak kabur di mata saya.

Satu jam berlalu dan belum terlihat tanda-tanda akan diadakannya imtihan sebelum beliau berkata dengan tiba-tiba,

“Yak, cukup. Sekarang semua keluar. Saya adakan ujian lisan.”

Kelas tiba-tiba gaduh. Saya sendiri sempat terbelalak dan hanya pasrah.

Kami berenam yang tinggal di dalam ruangan mulai sibuk membolak-balik halaman. Mengingat-ingat catatan. Punya saya sendiri malah nggak lengkap. Beberapa bab belum selesai saya salin. Saya hanya baca apa yang saya punya dari apa yang beliau berikan.

Pertanyaan pertama kepada orang pertama. Dua orang sebelum giliran saya.

Dia menjawab sempurna. Meskipun toh, sore tadi ia juga sama mengeluhnya dengan saya karena belum belajar. Saya yakin, dia sudah belajar beberapa waktu lalu, tapi belum memuaskan menurutnya. Saya mendengus kesal. Dengan jawaban seperti anak SMP yang ditanya satu tambah satu, bohong kalau dia belum belajar sama sekali.

Pertanyaan kedua pun dijawab dengan lancar. Lagi-lagi saya melihat dosen saya menggurat huruf A+ disamping nama teman saya. Saya sempat ingin pura-pura izin ke toilet dan pinjam catatan teman buat belajar bentar. Paling nggak biar saya nggak ndomblong banget pas ditanya. Tapi itu nggak mungkin, habis ini giliran saya. Saya betul-betul kosong mau ngapain.

And, here we go... the most ‘ugh’ moment in ‘waw’ lesson.

Dosen   : “Udzkuri ihda al-hadits!”*
Saya       : “Ayyu hadits in faqod Ustadz?”**
Dosen   : “Na’am. Ayyu hadits in kana.” ***

Oke bagus. Saya tidak pakai metode ini ketika belajar. Saya tidak menargetkan untuk hafal satu hadits dalam urutan yang baik dan tepat. Ah, sudahlah. Apa adanya saja. Pikir saya waktu itu. Saya pun mulai merapalkan satu hadits. Saya sendiri kurang yakin apakah sanad dan matan yang saya sebutkan sesuai. Entahlah, koreksinya nanti saja. Mulut saya sudah bergerak sendiri.

Beberapa pertanyaan seputar hadits yang saya sampaikan bisa saya jawab alakadarnya. Seingat saya, sepaham saya.

Selanjutnya, pertanyaan demi pertanyaan pun bergulir terus kepada teman yang lain. Ada yang bisa di jawab, ada yang tidak. Hanya faktor keberuntungan saja yang saya yakini ada di dalam sana ketika itu.

Waktu UTS telah usai.  KHS pun sampai ditangan. Saya pun segera mencari-cari hasil ‘keberuntungan’ saya beberapa waktu lalu. Dan tertulis A+ disana. Saya masih tidak percaya, membolak-balik KHS. Apa benar ini punya saya? Mungkin ada kesalahan dari BAAK? Ah, saya benar-benar tidak mengerti. Bagaimana bisa tertulis A+ di pelajaran Hadits saya dibanding dengan apa yang saya lakukan beberapa waktu lalu.

Tapi sayang, KHS dan isinya hanya sebatas mimpi saja. Bukan kenyataan nantinya. Lagian, UAS nya belum kan?

Yang saya paham, hari dimana saya sangat bergembira tanpa sebab itu adalah hari ketika saya mengenal jiwa dunia. Jiwa dunia menghibur saya dengan caranya sendiri. Saya bersedih karena saya belum mempersiapkan ujian Hadits dengan baik. Iya, ada beberapa masalah yang telah menguras saya tepat disebelum hari ujian. Tetapi ternyata jiwa dunia sepertinya tak ingin ada satupun anak dunianya tidak bahagia. Jiwa dunia telah menentramkan hati saya. Seolah-olah berkata semua akan baik-baik saja.  Dan jika kita telah mengenal jiwa dunia, maka seluruh elemennya akan membantumu untuk mencairkan kebahagiaan dan membiarkanmu merasakannya.

Hanya dengan mengenal jiwa dunia J

Mufradat :
Imtihan                   : ujian
Sanad                    : riwayat hadits. Hadits ini dari siapa-dari siapa urut sampai Rasullullah S.A.W
Matan                   : isi hadits/hadits itu sendiri. Contohnya Annadzofatu minal iman.

*Sebutkan salah satu hadits
**Hadits yang manapun Ustadz?
***Ya, terserah.