A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Saturday, August 16, 2014

Seremonia Pergi

Seremonia pergi dan meninggalkan itu selalu berbekas menyakitkan. Akhir-akhir ini, kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Setidaknya 10 kali dalam waktu kurang dari 15 hari. Dan di setiap perpisahan tersebut, saya selalu menjadi pihak yang ditinggalkan. Entah jauh, entah dekat.

Banyak teman yang pergi, lebih tepatnya pindah. Err, yah, pindah dan pergi. Pindah kamar, pindah sektor, pindah prodi hingga pindah kampus. Semua seolah kembali pada garis takdirnya kembali. Merajut asa yang baru, hari baru, semangat baru.

Saya sih masih tetap di sini. Tidak beranjak sedikitpun. Terlihat seperti tidak ada yang berubah. But everything has to be change, right?

Saya mulai dari diri saya, saya mulai dari yang terkecil, saya mulai dari sesuatu yang paling tidak saya sukai. Saya mulai berubah. Hidup sendiri adalah perubahan. Perubahan itu ibarat air. Air itu terus mengalir. Pilihannya, apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan atau berdiri di luar pagar permainan? kata Bang Steve Jobs sih gitu.

Tentang pergi, saya juga mulai berubah menyikapinya. Saya nggak perlu repot nangis bombay melepas satu per satu teman yang pergi. Saya akan tetap disini, menjadi tempat berpulang mereka. Menjadi ‘rumah’ bagi yang pergi. Menjadi tempat kembali. Datanglah kapanpun, guys. I’ll be there by heart beat. Cieh.

Satu lagi tentang kepergian, pasti akan menyisakan kehilangan. Selalu, lost is realized when something go after we had along time together. Angkatan kami, baru saja berduka atas kepergian salah seorang teman kami. Mujahidah, Insya Allah. Ia dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan, kalem dan tidak neko-neko. Ia pun telah menyempurnakan separuh dien nya dua tahun terakhir dan akan melengkapi kebahagiaannya dengan seorang putri. Sayang, ia tidak sempat melihat putrinya lebih lama. Tuhan merindukannya, Ia pun memanggilnya. Memintanya ‘pulang’.

Ah, pergi. Akankah saya ‘pergi’ juga dalam waktu dekat? Entah. Yang pasti, setiap calon ibu rela ‘pergi’ demi anaknya ‘tinggal’.

Selamat jalan Siti Rohmah.

Kamu pulang, dalam rumah abadi. Dan akan menjadi ‘rumah’ kita nanti. Ila-al-liqo’ fi firdausihi, ukhti.

Untuk teman ipar kami, Mr. Siti Rohmah, susut  air matamu. Jangan lagi mengais kesedihan. Putrimu ada karena istrimu. Si kecil masih membutuhkanmu. Berjanjilah kau akan mengantarkannya untuk menemui ibunya di surga. Maaf, kami tak bisa ikut mengantar Rohmah pulang. We have nothing but the pray always. And I especially. I just have this. Semoga dapat mewakili teman yang lain.

No comments:

Post a Comment