Seremonia pergi dan meninggalkan itu
selalu berbekas menyakitkan. Akhir-akhir ini, kejadian seperti itu terjadi
berulang kali. Setidaknya 10 kali dalam waktu kurang dari 15 hari. Dan di
setiap perpisahan tersebut, saya selalu menjadi pihak yang ditinggalkan. Entah
jauh, entah dekat.
Banyak teman yang pergi, lebih
tepatnya pindah. Err, yah, pindah dan pergi. Pindah kamar, pindah sektor, pindah
prodi hingga pindah kampus. Semua seolah kembali pada garis takdirnya kembali.
Merajut asa yang baru, hari baru, semangat baru.
Saya sih
masih tetap di sini. Tidak
beranjak sedikitpun. Terlihat seperti tidak ada yang berubah. But everything
has to be change, right?
Saya mulai dari diri saya, saya mulai
dari yang terkecil, saya mulai dari sesuatu yang paling tidak saya sukai. Saya
mulai berubah. Hidup sendiri adalah perubahan. Perubahan itu ibarat air. Air
itu terus mengalir. Pilihannya, apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan
atau berdiri di luar pagar permainan? kata Bang Steve Jobs sih gitu.
Tentang pergi, saya juga mulai
berubah menyikapinya. Saya nggak perlu repot nangis bombay melepas satu per
satu teman yang pergi. Saya akan tetap disini, menjadi tempat berpulang mereka.
Menjadi ‘rumah’ bagi yang pergi. Menjadi tempat kembali. Datanglah kapanpun, guys.
I’ll be there by heart beat. Cieh.
Satu lagi tentang kepergian, pasti
akan menyisakan kehilangan. Selalu, lost is realized when something go after
we had along time together. Angkatan kami, baru saja berduka atas kepergian
salah seorang teman kami. Mujahidah, Insya Allah. Ia dikenal sebagai pribadi
yang menyenangkan, kalem dan tidak neko-neko. Ia pun telah menyempurnakan
separuh dien nya dua tahun terakhir dan akan melengkapi kebahagiaannya
dengan seorang putri. Sayang, ia tidak sempat melihat putrinya lebih lama.
Tuhan merindukannya, Ia pun memanggilnya. Memintanya ‘pulang’.
Ah, pergi. Akankah saya ‘pergi’ juga
dalam waktu dekat? Entah. Yang pasti, setiap calon ibu rela ‘pergi’
demi anaknya ‘tinggal’.
Selamat
jalan Siti Rohmah.
Kamu
pulang, dalam rumah abadi. Dan akan menjadi ‘rumah’ kita nanti. Ila-al-liqo’ fi firdausihi, ukhti.
Untuk teman ipar kami, Mr. Siti Rohmah,
susut air matamu. Jangan lagi mengais
kesedihan. Putrimu ada karena istrimu. Si kecil masih membutuhkanmu.
Berjanjilah kau akan mengantarkannya untuk menemui ibunya di surga. Maaf, kami
tak bisa ikut mengantar Rohmah pulang. We have nothing but the pray always.
And I especially. I just have this. Semoga dapat mewakili teman yang lain.
No comments:
Post a Comment