Datang lagi hari dimana pelajaran Hadits telah dijanjikan dengan UTS.
Sebelumnya, UTS sempat ditunda karena dosen terlalu letih sehabis perjalanan
jauh. Entahlah untuk hari ini, apakah akan tetap UTS atau ditunda lagi. Yang
pasti, saya nggak belajar, nggak hapalan. Hari itu saya ingin merasa berbahagia. Bawaannya pengin main terus. Jadi
saya nyante senyante-nyantenya sepanjang sore. UTS nya sendiri dimulai selepas
isya’. Masih lama. Saya berpositive thinking bahwa semua akan baik-baik saja.
Jam tujuh tepat, kami disuruh masuk. Bukan hanya 6 orang seperti yang sudah
dijadwalkan perkelompok. Tapi 2 prodi. Okelah, kita masuk. Sepertinya akan
diberikan materi tambahan. Saya mulai tersenyum tenang. Bayangan UTS mulai
tampak kabur di mata saya.
Satu jam berlalu dan belum terlihat tanda-tanda akan diadakannya imtihan
sebelum beliau berkata dengan tiba-tiba,
“Yak, cukup. Sekarang semua keluar. Saya adakan ujian lisan.”
Kelas tiba-tiba gaduh. Saya sendiri sempat terbelalak dan hanya pasrah.
Kami berenam yang tinggal di dalam ruangan mulai sibuk membolak-balik
halaman. Mengingat-ingat catatan. Punya saya sendiri malah nggak lengkap.
Beberapa bab belum selesai saya salin. Saya hanya baca apa yang saya punya dari
apa yang beliau berikan.
Pertanyaan pertama kepada orang pertama. Dua orang sebelum giliran saya.
Dia menjawab sempurna. Meskipun toh, sore tadi ia juga sama mengeluhnya
dengan saya karena belum belajar. Saya yakin, dia sudah belajar beberapa waktu
lalu, tapi belum memuaskan menurutnya. Saya mendengus kesal. Dengan jawaban
seperti anak SMP yang ditanya satu tambah satu, bohong kalau dia belum belajar
sama sekali.
Pertanyaan kedua pun dijawab dengan lancar. Lagi-lagi saya melihat dosen
saya menggurat huruf A+ disamping nama teman saya. Saya sempat ingin pura-pura izin
ke toilet dan pinjam catatan teman buat belajar bentar. Paling nggak biar saya
nggak ndomblong banget pas ditanya. Tapi itu nggak mungkin, habis ini giliran
saya. Saya betul-betul kosong mau ngapain.
And, here we go... the most ‘ugh’ moment in ‘waw’ lesson.
Dosen : “Udzkuri ihda al-hadits!”*
Saya : “Ayyu hadits in faqod
Ustadz?”**
Dosen : “Na’am. Ayyu hadits in
kana.” ***
Oke bagus. Saya tidak pakai metode ini ketika belajar. Saya tidak
menargetkan untuk hafal satu hadits dalam urutan yang baik dan tepat. Ah,
sudahlah. Apa adanya saja. Pikir saya waktu itu. Saya pun mulai merapalkan
satu hadits. Saya sendiri kurang yakin apakah sanad dan matan
yang saya sebutkan sesuai. Entahlah, koreksinya nanti saja. Mulut saya sudah
bergerak sendiri.
Beberapa pertanyaan seputar hadits yang saya sampaikan bisa saya jawab
alakadarnya. Seingat saya, sepaham saya.
Selanjutnya, pertanyaan demi pertanyaan pun bergulir terus kepada teman
yang lain. Ada yang bisa di jawab, ada yang tidak. Hanya faktor keberuntungan
saja yang saya yakini ada di dalam sana ketika itu.
Waktu UTS telah usai. KHS pun sampai
ditangan. Saya pun segera mencari-cari hasil ‘keberuntungan’ saya beberapa
waktu lalu. Dan tertulis A+ disana. Saya masih tidak percaya, membolak-balik
KHS. Apa benar ini punya saya? Mungkin ada kesalahan dari BAAK? Ah, saya
benar-benar tidak mengerti. Bagaimana bisa tertulis A+ di pelajaran Hadits saya
dibanding dengan apa yang saya lakukan beberapa waktu lalu.
Tapi sayang, KHS dan isinya hanya sebatas mimpi saja. Bukan kenyataan
nantinya. Lagian, UAS nya belum kan?
Yang saya paham, hari dimana saya sangat bergembira tanpa sebab itu adalah
hari ketika saya mengenal jiwa dunia. Jiwa dunia menghibur saya dengan caranya
sendiri. Saya bersedih karena saya belum mempersiapkan ujian Hadits dengan
baik. Iya, ada beberapa masalah yang telah menguras saya tepat disebelum hari
ujian. Tetapi ternyata jiwa dunia sepertinya tak ingin ada satupun anak
dunianya tidak bahagia. Jiwa dunia telah menentramkan hati saya. Seolah-olah
berkata semua akan baik-baik saja. Dan
jika kita telah mengenal jiwa dunia, maka seluruh elemennya akan membantumu
untuk mencairkan kebahagiaan dan membiarkanmu merasakannya.
Hanya dengan mengenal jiwa dunia J
Mufradat :
Imtihan :
ujian
Sanad : riwayat hadits. Hadits ini dari siapa-dari siapa
urut sampai Rasullullah S.A.W
Matan : isi hadits/hadits itu sendiri. Contohnya Annadzofatu
minal iman.
*Sebutkan salah satu hadits
**Hadits yang manapun Ustadz?
***Ya, terserah.