Saya itu gusar ya, katanya banyak kolega yang mengeluh dipersulit masuk PTN/UIN di Indonesia. Padahal syarat sudah lengkap, bekal sudah siap, tinggal mak ‘plung’ kok ya ada saja keribetan tambahan.
Ujian tambahan lah, ikut paket C lah, tanda tangan ini-itu
lah, uang lagi lah. Bah.
Sebetulnya sih tidak ada yang
dipermasalahkan. Hanya saja, mata orang lain selalu menangkap hal-hal terkecil
dari orang lain. Sekasat apapun mata tak bisa melihat. Sesepele hal yang bertele-tele. Dari situ, orang saling
menilai untuk kemudian menyalahkan dan terjadilah perselisihan persepsi.
Sesederhana apakah ia layak diterima suatu kampus apa tidak. ~hah, napas
bentar.
Beberapa waktu lalu, saya mengambil
kursus singkat di salah satu daerah di Indonesia. Saya tidak pernah menyangka
endingnya akan sangat mengharukan. Awalnya saya juga tidak begitu yakin apakah saya benar-benar akan mendapatkan teman. Apakah
saya bisa menerima-diterima. Apakah mereka menyenangkan, dll. Saya tidak pernah berharap lebih, tapi justru saya mendapat lebih. Saya
sungguh bersyukur. Kami hanya ber 23,
namun dalam waktu 10 hari saja kami meninggalkan kesan kehilangan yang teramat.
Ketika kami berpisah kami benar-benar merasa ada yang hilang. Padahal itu hanya
sekedar kursus, bukan sekolah. Hanya sepuluh hari, bukan berbilang
tahun. Tapi kami telah memiliki satu sama lain. Kenapa? Karena kami
sama-sama memulainya dari NOL. Kami menyetarakan rasa dan membangunnya dari awal. Tidak ada yang lebih
tinggi atau lebih rendah. Semua sama meski usia membilang tidak.
Saya sendiri memilih mencoba menjadi NOL di setiap tempat
baru. Saya melakukannya bukan tanpa alasan. Lebih karena saya menghormati
sekitar. Jika kita sama-sama berada di titik nol, kita lebih mudah untuk ‘berbentuk’. Keakraban dan suasana yang menyenangkan akan lebih bisa
diciptakan. Orang lain pun akan lebih bisa ‘menerima’.
Dan kita bisa lebih
menguasai keadaan.
Menjadi nol, bukan berarti tak memiliki harga. Namun
siap dengan landasan dan pondasi untuk keadaan yang akan kita hadapi setelahnya.
Saya tidak berkata KOSONG lho ya, tetapi NOL. Sekali lagi, kosong tidak memiliki.
Sedangkan nol masih bernilai. Nol,
dapat digambarkan dengan sebutir telur. Telur tidaklah
kosong. Kita tidak
pernah tau seberapa penuh isi telur. Tapi ia terlihat nol
diluar. Nah, jadilah orang yang me-nol-kan diri ketika memulai sesuatu. Bukan akal, tapi penampilan. Kita
tidak pernah tau bukan, bagaimana nantinya. Apalagi di lingkungan yang baru, jangan sekali-kali sotoy atau yahanu.
Hindari hal-hal yang membuat anda menjadi episentrum perhatian orang karena
bualan. Dan ingatlah, tong kosong itu biasanya nyaring
bunyinya.
Who cares, kita kemarin ‘siapa’ atau ‘apa’ di sekolah yang lalu. Terus orang harus
bilang WUAOW gitu kalo kemarin anda Ketua Organisasi ‘anu’? kalau anda Bagian ‘inu’
yang sangat disegani? kalau anda panggilan pertama yudisium? Toh sekarang
sama-sama berstatus calon mahasiswa/mahasiswi. Balik ke nol lagi.
Sama saja kok, sehebat apapun kita ‘di dalam’ , kita
harus memulai dari nol lagi ketika sudah ‘keluar’. Nggak usah bawa-bawa nama
almamater kemarin. Apalagi kalo bawanya pake ember, trolley gitu. Nggak,
nggak usah. Anda sekarang individu baru. Lagian, bukankah seharusnya nama anda
yang memberikan sumbangan untuk keharuman almamater? bukan almamater yang membesarkan
nama anda?
Sekarang ini, belum saatnya menjadi shooter
gan. Lebih baik membaur seperti bunglon, menyamakan warna. Menjadi invisible
sambil menyadap semua data. Udah keren?.
Jadi, jangan terlalu tinggi hati
fellas. Justru kerendahan hati, yang menjadi
penolong masa depan. Biarkan
waktu yang membuktikan, seberapa ‘jauh’ kita telah melangkah.
Biarkan orang berdiri mengapresiasi dengan sendirinya tanpa anda harus capai meneriaki. Buktikan, itu perlu.
Buktikan dengan karya, dengan tindakan. Tapi nanti. Jadilah seperti gelas yang siap diisi. Harus siap diisi tanpa
merasa penuh. Gelas yang setengah isi, tapi juga setengah kosong.
No comments:
Post a Comment