A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Monday, August 18, 2014

Zero Point

Saya itu gusar ya, katanya banyak kolega yang mengeluh dipersulit masuk PTN/UIN di Indonesia. Padahal syarat sudah lengkap, bekal sudah siap, tinggal mak ‘plung’ kok ya ada saja keribetan tambahan. Ujian tambahan lah, ikut paket C lah, tanda tangan ini-itu lah, uang lagi lah. Bah.

Sebetulnya sih tidak ada yang dipermasalahkan. Hanya saja, mata orang lain selalu menangkap hal-hal terkecil dari orang lain. Sekasat apapun mata tak bisa melihat. Sesepele hal yang bertele-tele. Dari situ, orang saling menilai untuk kemudian menyalahkan dan terjadilah perselisihan persepsi. Sesederhana apakah ia layak diterima suatu kampus apa tidak. ~hah, napas bentar.

Beberapa waktu lalu, saya mengambil kursus singkat di salah satu daerah di Indonesia. Saya tidak pernah menyangka endingnya akan sangat mengharukan. Awalnya saya juga tidak begitu yakin apakah saya benar-benar akan mendapatkan teman. Apakah saya bisa menerima-diterima. Apakah mereka menyenangkan, dll. Saya tidak pernah berharap lebih, tapi justru saya mendapat lebih. Saya sungguh bersyukur. Kami hanya ber 23, namun dalam waktu 10 hari saja kami meninggalkan kesan kehilangan yang teramat. Ketika kami berpisah kami benar-benar merasa ada yang hilang. Padahal itu hanya sekedar kursus, bukan sekolah. Hanya sepuluh hari, bukan berbilang tahun. Tapi kami telah memiliki satu sama lain. Kenapa? Karena kami sama-sama memulainya dari NOL. Kami menyetarakan rasa dan membangunnya dari awal. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua sama meski usia membilang tidak.

Saya sendiri memilih mencoba menjadi NOL di setiap tempat baru. Saya melakukannya bukan tanpa alasan. Lebih karena saya menghormati sekitar. Jika kita sama-sama berada di titik nol, kita lebih mudah untuk ‘berbentuk’. Keakraban dan suasana yang menyenangkan akan lebih bisa diciptakan. Orang lain pun akan lebih bisa ‘menerima’. Dan kita bisa lebih menguasai keadaan.

Menjadi nol, bukan berarti tak memiliki harga. Namun siap dengan landasan dan pondasi untuk keadaan yang akan kita hadapi setelahnya.

Saya tidak berkata KOSONG lho ya, tetapi NOL. Sekali lagi, kosong tidak memiliki. Sedangkan nol masih bernilai. Nol, dapat digambarkan dengan sebutir telur. Telur tidaklah kosong. Kita tidak pernah tau seberapa penuh isi telur. Tapi ia terlihat nol diluar. Nah, jadilah orang yang me-nol-kan diri ketika memulai sesuatu. Bukan akal, tapi penampilan. Kita tidak pernah tau bukan, bagaimana nantinya. Apalagi di lingkungan yang baru, jangan sekali-kali sotoy atau yahanu. Hindari hal-hal yang membuat anda menjadi episentrum perhatian orang karena bualan. Dan ingatlah, tong kosong itu biasanya nyaring bunyinya.

Who cares, kita kemarin ‘siapa’ atau ‘apa’ di sekolah yang lalu. Terus orang harus bilang WUAOW gitu kalo kemarin anda Ketua Organisasi ‘anu’? kalau anda Bagian ‘inu’ yang sangat disegani? kalau anda panggilan pertama yudisium? Toh sekarang sama-sama berstatus calon mahasiswa/mahasiswi. Balik ke nol lagi.

Sama saja kok, sehebat apapun kita ‘di dalam’ , kita harus memulai dari nol lagi ketika sudah ‘keluar’. Nggak usah bawa-bawa nama almamater kemarin. Apalagi kalo bawanya pake ember, trolley gitu. Nggak, nggak usah. Anda sekarang individu baru. Lagian, bukankah seharusnya nama anda yang memberikan sumbangan untuk keharuman almamater? bukan almamater yang membesarkan nama anda?

Sekarang ini, belum saatnya menjadi shooter gan. Lebih baik membaur seperti bunglon, menyamakan warna. Menjadi invisible sambil menyadap semua data. Udah keren?.


Jadi, jangan terlalu tinggi hati fellas. Justru kerendahan hati, yang menjadi penolong masa depan. Biarkan waktu yang membuktikan, seberapa ‘jauh’ kita telah melangkah. Biarkan orang berdiri mengapresiasi dengan sendirinya tanpa anda harus capai meneriaki. Buktikan, itu perlu. Buktikan dengan karya, dengan tindakan. Tapi nanti. Jadilah seperti gelas yang siap diisi. Harus siap diisi tanpa merasa penuh. Gelas yang setengah isi, tapi juga setengah kosong.

Saturday, August 16, 2014

Seremonia Pergi

Seremonia pergi dan meninggalkan itu selalu berbekas menyakitkan. Akhir-akhir ini, kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Setidaknya 10 kali dalam waktu kurang dari 15 hari. Dan di setiap perpisahan tersebut, saya selalu menjadi pihak yang ditinggalkan. Entah jauh, entah dekat.

Banyak teman yang pergi, lebih tepatnya pindah. Err, yah, pindah dan pergi. Pindah kamar, pindah sektor, pindah prodi hingga pindah kampus. Semua seolah kembali pada garis takdirnya kembali. Merajut asa yang baru, hari baru, semangat baru.

Saya sih masih tetap di sini. Tidak beranjak sedikitpun. Terlihat seperti tidak ada yang berubah. But everything has to be change, right?

Saya mulai dari diri saya, saya mulai dari yang terkecil, saya mulai dari sesuatu yang paling tidak saya sukai. Saya mulai berubah. Hidup sendiri adalah perubahan. Perubahan itu ibarat air. Air itu terus mengalir. Pilihannya, apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan atau berdiri di luar pagar permainan? kata Bang Steve Jobs sih gitu.

Tentang pergi, saya juga mulai berubah menyikapinya. Saya nggak perlu repot nangis bombay melepas satu per satu teman yang pergi. Saya akan tetap disini, menjadi tempat berpulang mereka. Menjadi ‘rumah’ bagi yang pergi. Menjadi tempat kembali. Datanglah kapanpun, guys. I’ll be there by heart beat. Cieh.

Satu lagi tentang kepergian, pasti akan menyisakan kehilangan. Selalu, lost is realized when something go after we had along time together. Angkatan kami, baru saja berduka atas kepergian salah seorang teman kami. Mujahidah, Insya Allah. Ia dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan, kalem dan tidak neko-neko. Ia pun telah menyempurnakan separuh dien nya dua tahun terakhir dan akan melengkapi kebahagiaannya dengan seorang putri. Sayang, ia tidak sempat melihat putrinya lebih lama. Tuhan merindukannya, Ia pun memanggilnya. Memintanya ‘pulang’.

Ah, pergi. Akankah saya ‘pergi’ juga dalam waktu dekat? Entah. Yang pasti, setiap calon ibu rela ‘pergi’ demi anaknya ‘tinggal’.

Selamat jalan Siti Rohmah.

Kamu pulang, dalam rumah abadi. Dan akan menjadi ‘rumah’ kita nanti. Ila-al-liqo’ fi firdausihi, ukhti.

Untuk teman ipar kami, Mr. Siti Rohmah, susut  air matamu. Jangan lagi mengais kesedihan. Putrimu ada karena istrimu. Si kecil masih membutuhkanmu. Berjanjilah kau akan mengantarkannya untuk menemui ibunya di surga. Maaf, kami tak bisa ikut mengantar Rohmah pulang. We have nothing but the pray always. And I especially. I just have this. Semoga dapat mewakili teman yang lain.