A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Tuesday, February 25, 2014

Sang Pengendali Hati


Pondok tak ubahnya seperti roda yang berputar, seperti tongkat yang diestafetkan. Setiap kegiatan akan mendapatkan porsi dan waktunya masing-masing. Setiap orang akan merasakan masa dari perannya. Dan pastinya, setiap pekerjaan ada batas limitnya.

Kegiatan seperti GSD, FSS, pergantian pengurus OPPM, dan berbagai duta itu sebagai medan latihan. Kita dicoba untuk memainkan peran lain dalam sandiwara kehidupan. Kita diminta menjadi apa yang orang lain pernah menjadi. Tidak, tidak ada perubahan. Hanya sekedar pergantian. Maka, tak ada rasa kecewa, tak ada rasa menyesal terlampau dalam, dan tak ada pula kekesalan. Meskipun dalam pergantian berdampak pada perubahan. 

Ketahuilah nak, hidup ini tidak seperti novel, yang kalau kita baca halaman sekarang terasa sesak, sedih, menyakitkan, dan penuh masalah, maka dengan bersabar membaca 10 atau 20 halaman berikutnya semua selesai. Semua berubah jadi membahagiakan.

Di kehidupan nyata, kita perlu 10 hari, 20 hari, berpuluh bulan, bahkan berbilang tahun untuk terus bersabar agar semua selesai. Berubah menjadi membahagiakan.Membuat semua kepenatan usai. Karena dengan begitulah, kita akan menjadi dewasa oleh kehidupan. Memiliki pemahaman baik karena proses kehidupan. Hidup lah yang akanmembuatkita menjadi seseorang yang lebih kuat dan lebih kuat lagi.

Tak perlulah kita menjadi pengendali air. Yangkeberadaanya bisa membuat gelombang percikan cair menjadi mengkristal. Tak butuh pula kita kekuatan untuk mengendalikan udara. Sehingga bisa menjadikan diri kita terbang dengan selarik hembusan udara. Tanah pun juga tak akan berhenti berputar jika kita tak mempunyai kekuatan untuk mengendalikannya bukan? Cukuplah kita menjadi pengendali hati saja. Yang bisa mengambil alih kuasa angkara tanpa membuatnya terluka. Yang bisa menjadikanmu berbunga-bunga di tengah carut-marutnya dunia.

Pengendali hati, bukan seorang yang dengan mudahnya mencuri hati orang lain untuk membuat orang lain silau akan dirinya. Pengendali hati, bukan yang senantiasa mempermainkan hati temannya dengan membualnya dengan janji-janji. Pengendali hati, akan menundukkan emosi diri ketika melambung tinggi. Pengendali hati, selalu berusaha mengekang diri dari perbuatan yang menyakiti. Ia akan terus dan terus menata hati. Melipat setiap sudutnya dengan hati-hati. Tingkah lakunya merupakan cerminan hati. Dan ketika ada yang mengganggu tatanan hatinya, ia akan tetap menatanya kembali. Tanpa melukai, tanpa menyakiti.

Maka anakku, tak perlu kau bersedu sedan karena tak mendapat takdir yang kau inginkan. Tak perlu bergundah gulana menghadapi hidup yang penuh tikungan. Tataplah dunia dengan pelangi di matamu. Dan jalani peranmu sesuai yang digariskanNya dengan penuh rasa  syukur. Penuhi hatimu dengan butir-butir keikhlasan yag berkilau. Semoga, dengan begitu akan menjadikanmu hambaNya yang paling dicintaiNya.



Monday, February 3, 2014

Menilik Pondok dari Kacamata Nilai-nilai


BAB I
PENDAHULUAN
Pesantren telah muncul jauh sebelum Indonesia merdeka, namun keberadaannya hampir terlupakan. Padahal, dari pesantren lah muncul cikal bakal pendidikan berkarakter Indonesia.
Dewasa ini, pondok pesantren tak lagi terkesan reaktif emosional isolatif sebagaimana pada zaman penjajahan atau di awal kemerdekaan dahulu, tapi lebih bersifat akomodatif bervisi ke depan. Artinya, sebagai representasi lembaga pendidikan islam khas Indonesia, institusi pesantren sudah bukan zamannnya lagi kalau misi yang diemban cuma sebatas proteksi diri dan pewarisan tradisi. Sehingga, lulusannya nantinya tidak cuma berperan sebagai penonoton di perhelatan nasional atau paling banter tampil di akhir upacara mengamini semua keputusan.
Saat ini pun, sekolah baru berlabel islam terpadu atau unggulan mirip asrama semakin menjamur. Ruh pendidikannya tetap tak jauh berbeda. Dengan jiwa keikhlasan dan kesederhanaan mengarah pada kemandirian individual. Apalagi arti belajar sekarang ini bukan sekedar learning how to know, tapi juga learning how to do,how to be and how to live together. Maka nilai produk, yaitu keunggulan kompetensi diri lebih dikedepankan daripada ijazah formalnya. Nilai-nilai kemanusiaan ini yang sekarang sedang sibuk digali sebetulnya telah ada dan  bersumber dari ajaran Islam. Dimana nilai-nilai tersebut telah menjadi tradisi pesantren.
Pendidikan berkarakter bukan didapat lewat pengajaran klasikal di kelas-kelas. Karena untuk membangun karakter bangsa perlu pendidikan yang terimplementasi dalam apa yang dilihat, dilihat, didengar, dirasakan anak. Kesemuanya harus memenuhi nilai-nilai pendidikan.

BAB II
NILAI-NILAI yang MENGANDUNG PENDIDIKAN DALAM DINAMIKA PONDOK PESANTREN
§ Nilai Keikhlasan
Nilai keikhlasan dapat ditemukan pada :
ü  Mengantri (makan, mandi, di ADM, dan lain-lain)
ü  Mendapat hukuman (‘iqob) dari Bagian Kehakiman OPPM/KOORD
ü  Belajar jauh dari orang tua dan keluarga, berbulan-bulan lamanya tidak pulang, tidak dikunjungi
ü  Bangun pada pagi buta untuk pergi ke masjid

§ Nilai Kesederhanaan

Nilai Kesederhanaan nampak pada :

ü  Kerudung yang dikenakan sama, putih-polos. Bukan kerudung bergo/ paris/ phasmina/ shawl
ü  Baju yang dibawa dibatasi 6 stel per orang
ü  Lauk-pauk sederhana, tidak daging setiap hari. Yang penting cukup gizi. Sesekali makan enak untuk penambahan gizi dan selingan saja.
ü  Berangkat ke sekolah jalan kaki
ü  Mukena yang dipakai putih, tidak warna-warni

§ Nilai Berdikari

Nilai berdikari, terimplementasi dalam :

ü  Belajar mengurus dirinya sendiri
ü  Memenuhi kebutuhannya sendiri
ü  Menolong dirinya sendiri
ü  Belajar untuk tidak terlalu bergantung pada orang-tua (tidak sering dijenguk)
§ Nilai Berpikiran Bebas
            Gontor menanamkan cara berpikir bebas kepada santrinya. Dalam konteks ini, berpikiran bebas dimaksudkan dengan berfikir ke segala arah, ke segala penjuru dengan arti tidak memihak kepada suatu golongan saja. Hal ini sesuai dengan motto pondok untuk ‘berdiri di atas dan untuk semua golongan’.
§ Nilai Ukhuwah Islamiyyah
            Kehidupan pondok ibarat keluarga. Kelas 6 adalah anak yang tertua, diikuti kemudian kelas 5, kelas 4, kelas 3 intensive dan seterusnya. Maka jika anak yang lebih besar mempunyai hajat atau acara, sudah selayaknya adik-adiknya membantu. Begitu juga sebaliknya. Jika sang adik melakukan kesalahan, maka sang kakak lah yang mengingatkan, membenarkan, meluruskan, dan sebaliknya. Jika yang lebih kecil mengalami kesulitan belajar, maka yang lebih besar membantunya dalam belajar.
            Ibaratnya, teman samping lemari kita adalah tetangga kita. Teman satu kamar kita sama dengan tetangga satu kompleks/satu perumahan. Maka dipilih lah ketua kamar sebagai ‘Ketua RT’. Cakupannya lebih luas jika satu rayon-layaknya satu kecamatan. Maka dipilih lah Ketua Rayon sebagai ‘Ketua Kecamatan’ nya, dan seterusnya. Maka, pondok ini bagaikan miniatur kecil dari masyarakat, masyarakat yang islami (الإسلامي  (المجتمع
§  Nilai Kaderisasi
            “Seorang pemimpin, tidak disebut sukses jika belum bisa mencetak pemimpin”. Itulah mengapa setiap kegiatan atau organisasi-organisasi yang ada di pondok ikut melibatkan ‘anggota prematur’ nya. Supaya kepengurusan nanti dapat mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari apa yang telah ia rasakan sebelumnya. Dengan begitu, ia bisa memilah dan memilih, mana segi positif yang harus tetap dilaksanakan dan mana segi negative yang harus ditinggalkan.
 v  Kegiatan-kegiatan/substansi kegiatan pondok yang mendukung pendidikan :
Ø  Ketua
Dengan menjadi ketua, anak belajar menjadi qudwah hasanah kapanpun dan dimanapun. Solah menjadi public figure yang kemanapun disorot. Berusaha menjadi manusia tanpa cela dipandangan anggotanya dan juga belajar melayani ummat.
Ø  Bagian Kehakiman
       Lewat Bagian kehakiman, anak dituntut menjadi orang yang berlaku adil, bijaksana, mengayomi dan menjadi penengah.
Ø  Bagian Penerangan
Bagian Penerangan, diibaratkan dengan orang yang selalu menghibur, menyampaikan berita gembira, dan menjadi orang yang berkata baik.
Ø  Pidato (Muhadloroh)
Inilah salah satu ajang berlatih menjadi singa. Bagaimana kita bisa menjadi singa yang mengaum lantang di masyarakat lewat dakwah-dakwah.  Dengan pidato pula, anak dapat belajar menghadapi masyarakat dengan dirinya sebagai tokoh sentralnya.
Ø  Kepramukaan (Kasyafah)
Pramuka menjadi jalan keluar bagi anak-anak yang mempunyai ‘tenaga berlebih’ untuk menyalurkan kemampuannya. Dalam pramuka anak bisa lebih bebas berekspresi. Karena dalam pramuka terdapat beberapa aspek yang tidak ada dalam kurikulum kelas maupun rayon. Hal ini menjadikan lebih banyak ‘gesekan-gesekan’ yang terjadi dan saling singgung satu sama lain dan menjadikan pramuka lebih luwes dalam pemndidikan anak.
Ø  Pengajar Pelajaran Sore
Menjadi pengajar pelajaran sore seperti simulasi menjadi pengajar hakiki. Dimana pengajar adalah pengantar risalah kenabian yang mempunyai andil besar dalam proses pendidikan.
Ø  Dhoribatul Jaros
Ketika menjadi pemukul jaros, anak diberi tanggung jawab untuk menjadi jantung penggerak seluruh aktivitas pondok. Anak diberi kepercayaan besar dengan menjadi zero point, titik acuan pergantian pekerjaan.

BAB III
PENUTUP
            Sebagai penutup, kami sampai pada kesimpulan;
أن يكون كل ما نراه التلميذات وما يسمعنه وما يشعرنه كلها عامل من عوامل التربية
Yang mana kesemua nilai-nilai harus terimplementasi dalam kegiatan sehari-hari dan tercermin pada keluhuran akhlaqnya.