BAB I
PENDAHULUAN
Pesantren telah
muncul jauh sebelum Indonesia merdeka, namun keberadaannya hampir terlupakan.
Padahal, dari pesantren lah muncul cikal bakal pendidikan berkarakter
Indonesia.
Dewasa ini,
pondok pesantren tak lagi terkesan reaktif emosional isolatif sebagaimana pada
zaman penjajahan atau di awal kemerdekaan dahulu, tapi lebih bersifat
akomodatif bervisi ke depan. Artinya, sebagai representasi lembaga pendidikan
islam khas Indonesia, institusi pesantren sudah bukan zamannnya lagi kalau misi
yang diemban cuma sebatas proteksi diri dan pewarisan tradisi. Sehingga,
lulusannya nantinya tidak cuma berperan sebagai penonoton di perhelatan
nasional atau paling banter tampil di akhir upacara mengamini semua keputusan.
Saat ini pun,
sekolah baru berlabel islam terpadu atau unggulan mirip asrama semakin
menjamur. Ruh pendidikannya tetap tak jauh berbeda. Dengan jiwa keikhlasan dan
kesederhanaan mengarah pada kemandirian individual. Apalagi arti belajar
sekarang ini bukan sekedar learning how to know, tapi juga learning
how to do,how to be and how to live together. Maka nilai produk, yaitu
keunggulan kompetensi diri lebih dikedepankan daripada ijazah formalnya. Nilai-nilai
kemanusiaan ini yang sekarang sedang sibuk digali sebetulnya telah ada dan bersumber dari ajaran Islam. Dimana
nilai-nilai tersebut telah menjadi tradisi pesantren.
Pendidikan
berkarakter bukan didapat lewat pengajaran klasikal di kelas-kelas. Karena
untuk membangun karakter bangsa perlu pendidikan yang terimplementasi dalam apa
yang dilihat, dilihat, didengar, dirasakan anak. Kesemuanya harus memenuhi
nilai-nilai pendidikan.
BAB II
NILAI-NILAI yang MENGANDUNG PENDIDIKAN DALAM DINAMIKA PONDOK
PESANTREN
§ Nilai Keikhlasan
Nilai keikhlasan dapat ditemukan
pada :
ü Mengantri (makan, mandi, di ADM, dan lain-lain)
ü Mendapat hukuman (‘iqob) dari Bagian Kehakiman OPPM/KOORD
ü Belajar jauh dari orang tua dan keluarga, berbulan-bulan lamanya
tidak pulang, tidak dikunjungi
ü Bangun pada pagi buta untuk pergi ke masjid
§ Nilai Kesederhanaan
Nilai Kesederhanaan nampak pada :
ü Kerudung yang dikenakan sama, putih-polos. Bukan kerudung bergo/
paris/ phasmina/ shawl
ü Baju yang dibawa dibatasi 6 stel per orang
ü Lauk-pauk sederhana, tidak daging setiap hari. Yang penting cukup
gizi. Sesekali makan enak untuk penambahan gizi dan selingan saja.
ü Berangkat ke sekolah jalan kaki
ü Mukena yang dipakai putih, tidak warna-warni
§ Nilai Berdikari
Nilai berdikari, terimplementasi dalam :
ü
Belajar
mengurus dirinya sendiri
ü
Memenuhi
kebutuhannya sendiri
ü
Menolong
dirinya sendiri
ü
Belajar
untuk tidak terlalu bergantung pada orang-tua (tidak sering dijenguk)
§ Nilai Berpikiran Bebas
Gontor
menanamkan cara berpikir bebas kepada santrinya. Dalam konteks ini, berpikiran
bebas dimaksudkan dengan berfikir ke segala arah, ke segala penjuru dengan arti
tidak memihak kepada suatu golongan saja. Hal ini sesuai dengan motto pondok
untuk ‘berdiri di atas dan untuk semua golongan’.
§ Nilai Ukhuwah Islamiyyah
Kehidupan pondok ibarat keluarga. Kelas 6 adalah anak yang
tertua, diikuti kemudian kelas 5, kelas 4, kelas 3 intensive dan seterusnya.
Maka jika anak yang lebih besar mempunyai hajat atau acara, sudah selayaknya
adik-adiknya membantu. Begitu juga sebaliknya. Jika sang adik melakukan
kesalahan, maka sang kakak lah yang mengingatkan, membenarkan, meluruskan, dan
sebaliknya. Jika yang lebih kecil mengalami kesulitan belajar, maka yang lebih
besar membantunya dalam belajar.
Ibaratnya,
teman samping lemari kita adalah tetangga kita. Teman satu kamar kita sama
dengan tetangga satu kompleks/satu perumahan. Maka dipilih lah ketua kamar
sebagai ‘Ketua RT’. Cakupannya lebih luas jika satu rayon-layaknya satu
kecamatan. Maka dipilih lah Ketua Rayon sebagai ‘Ketua Kecamatan’ nya, dan
seterusnya. Maka, pondok ini bagaikan miniatur kecil dari masyarakat,
masyarakat yang islami (الإسلامي (المجتمع
§ Nilai Kaderisasi
“Seorang
pemimpin, tidak disebut sukses jika belum bisa mencetak pemimpin”. Itulah
mengapa setiap kegiatan atau organisasi-organisasi yang ada di pondok ikut
melibatkan ‘anggota prematur’ nya. Supaya kepengurusan nanti dapat mengambil
pelajaran sebanyak-banyaknya dari apa yang telah ia rasakan sebelumnya. Dengan
begitu, ia bisa memilah dan memilih, mana segi positif yang harus tetap
dilaksanakan dan mana segi negative yang harus ditinggalkan.
v Kegiatan-kegiatan/substansi kegiatan pondok yang mendukung
pendidikan :
Ø Ketua
Dengan menjadi
ketua, anak belajar menjadi qudwah hasanah kapanpun dan dimanapun. Solah
menjadi public figure yang kemanapun disorot. Berusaha menjadi manusia
tanpa cela dipandangan anggotanya dan juga belajar melayani ummat.
Ø Bagian Kehakiman
Lewat Bagian kehakiman, anak dituntut
menjadi orang yang berlaku adil, bijaksana, mengayomi dan menjadi penengah.
Ø Bagian Penerangan
Bagian
Penerangan, diibaratkan dengan orang yang selalu menghibur, menyampaikan berita
gembira, dan menjadi orang yang berkata baik.
Ø
Pidato
(Muhadloroh)
Inilah salah
satu ajang berlatih menjadi singa. Bagaimana kita bisa menjadi singa yang
mengaum lantang di masyarakat lewat dakwah-dakwah. Dengan pidato pula, anak dapat belajar
menghadapi masyarakat dengan dirinya sebagai tokoh sentralnya.
Ø
Kepramukaan
(Kasyafah)
Pramuka menjadi
jalan keluar bagi anak-anak yang mempunyai ‘tenaga berlebih’ untuk menyalurkan
kemampuannya. Dalam pramuka anak bisa lebih bebas berekspresi. Karena dalam
pramuka terdapat beberapa aspek yang tidak ada dalam kurikulum kelas maupun
rayon. Hal ini menjadikan lebih banyak ‘gesekan-gesekan’ yang terjadi dan
saling singgung satu sama lain dan menjadikan pramuka lebih luwes dalam
pemndidikan anak.
Ø
Pengajar
Pelajaran Sore
Menjadi
pengajar pelajaran sore seperti simulasi menjadi pengajar hakiki. Dimana
pengajar adalah pengantar risalah kenabian yang mempunyai andil besar dalam
proses pendidikan.
Ø
Dhoribatul
Jaros
Ketika menjadi pemukul
jaros, anak diberi tanggung jawab untuk menjadi jantung penggerak seluruh
aktivitas pondok. Anak diberi kepercayaan besar dengan menjadi zero point,
titik acuan pergantian pekerjaan.
BAB III
PENUTUP
Sebagai
penutup, kami sampai pada kesimpulan;
أن
يكون كل ما نراه التلميذات وما يسمعنه وما يشعرنه كلها عامل من عوامل التربية
Yang mana
kesemua nilai-nilai harus terimplementasi dalam kegiatan sehari-hari dan
tercermin pada keluhuran akhlaqnya.