Setiap orang memang
diciptakan berbeda. Masing-masing punya warna. Mungkin itu sebabnya, mengapa
dunia terlihat indah.
Saya sendiri jika ditanya
apa warna kesukaan saya, saya akan kesulitan menemukan jawabannya. Entahlah.
Saya pernah suka putih. Saya suka warna seperti warna kuning telur. Saya suka
kilau warna tembaga. Saya suka damainya biru. Saya segar ketika melihat hijau. Saya
suka coklat batu bata.Panjang jika harus diuraikan. Sekali lagi,entahlah.
Agaknya saya kurang percaya
dengan orang yang cuma suka satu warna. Maaf, jika kalian tidak setuju dengan
saya. Tapi, bagaimana bisa kita menggunakan satu warna dan menyukainya begitu
saja, sedangkan tubuh kita saja terdiri lebih dari satu warna?
Setiap warna itu berbeda.
Begitupun karakteristiknya.
Manusia akan nyaman dan
merasa cocok jika ia berada di tengah corak yang sama dengan dirinya. Secara
tak sengaja pun, kita mencari orang yang sewarna dengan kita. Bukan. Bukan
berdasar warna kesukaan. Tapi warna diri.
Tapi, bagaimana jika orang
tersebut mempunyai banyak warna dalam hidupnya?
Saya punya teman. Ia sangat
supel dan luwes dalam pergaulan. Bisa jadi ia berubah lebih dari 4 kali dalam
sehari. Ketika dengan teman A ia agak childish, menggelendot manja. Ketika
bersama dengan teman B ia bertindak layaknya remaja awal, tertawa riang
gila-gilaan. Di lain waktu, saya menemukannya terlihat begitu dewasa dengan
peran sebagai ketua organisasi yang memberi wejangan kepada anak buahnya. Lain
kesempatan, ia telah berubah menjadi mahasiswi intelek penuh prestasi dengan
pemikiran yang tajam. Ketika bersama dengan para akhwat rohis, ia pun sempurna
menjelma menjadi muslimah yang alim dan kaffah.
Saya sempat menegurnya, agar
menentukan satu corak warna saja untuk dasar kehidupannya. Entah ia menggubris
entah tidak, ia tetap seperti yang saya lihat selama ini.
Suatu waktu, ketika
kebosanan membungkus kami, saya membacakan question of life yang saya temukan di
blog kevin anggara.
Pertanyaan ke 14:
“Apa sih perbedaan kamu yang
membuat kamu itu berbeda banget sama orang lain?”
Jawabannya sungguh di luar
dugaan saya.
“Aku punya banyak sifat.
Bermacam-macam. Jadi aku bisa masuk ke kehidupan orang manapun yang aku mau dan
aku bisa bergabung dengan mereka.”
Buat apa? Mengapa harus banyak
warna dalam satu diri manusia? Bukan kah denganbegitu dia menyamarkan warnanya
sendiri? Tidakkah itu menjadi seperti orang yang tidak mempunyai jati diri?
Bukan berarti saya tidak menyetujuinya.
Hanya saja, jika ia punya satu warna khas saja yang tidak melebur jika bersama warna
lain sih, nggak masalah. Tapi ini, seolah semua berwarna berpadu. Abstrak.
Nggak jelas.
Manusia setengah bunglon.
Bahkan, bunglon pun punya warna tetap pada kulitnya.
Memang sih, untuk bisa
adaptasi atau berbaur dengan orang itu dengan memposisiskan diri kita di
tengah. Tapi, bukan berarti kita nggak punya pendirian lantas manut saja dengan
arus kan? Kata mutiara arab tertulis,
وإن تدنو
مني تدنو منك مودتي و إن تنأ عني تلقني عنك نا ئيا
Jika kalian mendekatiku,
maka kau akan mendekatimu. Jika kamu menjauhiku, maka kau akan menemukan ku
menjauh.
كوني عند
حسن ظنهم
Jadilah sebaik, seperti
apa yang orang lain kira.
Terus, dimana kata “menjadi
diri sendiri” itu berada?
No comments:
Post a Comment