A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Saturday, March 8, 2014

Manusia Setengah Bunglon

Setiap orang memang diciptakan berbeda. Masing-masing punya warna. Mungkin itu sebabnya, mengapa dunia terlihat indah.
Saya sendiri jika ditanya apa warna kesukaan saya, saya akan kesulitan menemukan jawabannya. Entahlah. Saya pernah suka putih. Saya suka warna seperti warna kuning telur. Saya suka kilau warna tembaga. Saya suka damainya biru. Saya segar ketika melihat hijau. Saya suka coklat batu bata.Panjang jika harus diuraikan. Sekali lagi,entahlah.
Agaknya saya kurang percaya dengan orang yang cuma suka satu warna. Maaf, jika kalian tidak setuju dengan saya. Tapi, bagaimana bisa kita menggunakan satu warna dan menyukainya begitu saja, sedangkan tubuh kita saja terdiri lebih dari satu warna?
Setiap warna itu berbeda. Begitupun karakteristiknya.
Manusia akan nyaman dan merasa cocok jika ia berada di tengah corak yang sama dengan dirinya. Secara tak sengaja pun, kita mencari orang yang sewarna dengan kita. Bukan. Bukan berdasar warna kesukaan. Tapi warna diri.
Tapi, bagaimana jika orang tersebut mempunyai banyak warna dalam hidupnya?
Saya punya teman. Ia sangat supel dan luwes dalam pergaulan. Bisa jadi ia berubah lebih dari 4 kali dalam sehari. Ketika dengan teman A ia agak childish, menggelendot manja. Ketika bersama dengan teman B ia bertindak layaknya remaja awal, tertawa riang gila-gilaan. Di lain waktu, saya menemukannya terlihat begitu dewasa dengan peran sebagai ketua organisasi yang memberi wejangan kepada anak buahnya. Lain kesempatan, ia telah berubah menjadi mahasiswi intelek penuh prestasi dengan pemikiran yang tajam. Ketika bersama dengan para akhwat rohis, ia pun sempurna menjelma menjadi muslimah yang alim dan kaffah.
Saya sempat menegurnya, agar menentukan satu corak warna saja untuk dasar kehidupannya. Entah ia menggubris entah tidak, ia tetap seperti yang saya lihat selama ini.
Suatu waktu, ketika kebosanan membungkus kami, saya membacakan question of life yang saya temukan di blog kevin anggara.
Pertanyaan ke 14:
“Apa sih perbedaan kamu yang membuat kamu itu berbeda banget sama orang lain?”
Jawabannya sungguh di luar dugaan saya.
“Aku punya banyak sifat. Bermacam-macam. Jadi aku bisa masuk ke kehidupan orang manapun yang aku mau dan aku bisa bergabung dengan mereka.”
Buat apa? Mengapa harus banyak warna dalam satu diri manusia? Bukan kah denganbegitu dia menyamarkan warnanya sendiri? Tidakkah itu menjadi seperti orang yang tidak mempunyai jati diri?
Bukan berarti saya tidak menyetujuinya. Hanya saja, jika ia punya satu warna khas saja yang tidak melebur jika bersama warna lain sih, nggak masalah. Tapi ini, seolah semua berwarna berpadu. Abstrak. Nggak jelas.
Manusia setengah bunglon. Bahkan, bunglon pun punya warna tetap pada kulitnya.
Memang sih, untuk bisa adaptasi atau berbaur dengan orang itu dengan memposisiskan diri kita di tengah. Tapi, bukan berarti kita nggak punya pendirian lantas manut saja dengan arus kan? Kata mutiara arab tertulis,
وإن تدنو مني تدنو منك مودتي و إن تنأ عني تلقني عنك نا ئيا
Jika kalian mendekatiku, maka kau akan mendekatimu. Jika kamu menjauhiku, maka kau akan menemukan ku menjauh.
كوني عند حسن ظنهم
Jadilah sebaik, seperti apa yang orang lain kira.
Terus, dimana kata “menjadi diri sendiri” itu berada?

Oke lah, jika mempunyai banyak warna dalam diri anda. Tetapi, anda harus ambil satu diantaranya dan jadikan itu sebagai warna dasar kehidupan. Sehingga anda akan tetap bergeming meski sekitar anda bergumul rusuh. Tanpa mencampur warna orang lain ke dalam pribadi anda. Ya?

No comments:

Post a Comment