A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Wednesday, April 9, 2014

Pemilu di Gontor


Postingan kali ini bukan membahas tentang pemilu yang ngeributin partai dan caleg mana yang harus dipilih. Saya ingin bercerita sedikit tentang pemilu yang ada di Gontor.

Emang ada gitu pemilu di pondok? Apanya yang mau dipilih? Kyainya?

Bukan, bukan. Di pondok kan juga ada organisasi, men. Pondok kami punya dua organisasi besar. Satu, OPPM, yang mengurusi keseharian santri dari bangun tidur sampai tidur lagi dan segala ekskul-lebih kaya OSIS sih. Dan dua, Dewan KORDINATOR yang mengurusi kegiatan kepramukaan. Bedanya, kalo di SMP dan SMA kita ngurusin selama jam sekolah doang, organisasi yang di pondok kita ngurusinnya 24 jam. Kebayang betapa ribetnya hidup dengan keterikatan sama organisasi kaya gitu.

Hm, jangan salah, meskipun kami anak pondok, tapi kami juga pernah berpengalaman dalam urusan pilih-memilih. Pura-pura jadi anggota DPR pernah, sidang setingkat menteri pernah, pura pura jadi badan eksekutif juga pernah.

Alaaah... Paling juga pemilu abal-abal gitu kan?

Sistem pemilu di Gontor, nggak seperti pemilu pada umumnya, yang ‘jadi’ adalah yang memenangkan prosentasesuara terbanyak. Iya, kami menggunakan sistem demokrasi, tapi demokrasi yang kami gunakan adalah demokrasi terpimpin. Dimana pemilih hanya terbatas pada orang-orang yang faqih lagi ‘alim tentang  hal ini. Jadi, kalopun ada pemilihan tentang ketua OPPM misalnya. Nggak semua penduduk Darussalam dari kelas 1-6 akan ikut memilih. Pemilih lebih difokuskan kepada kelas 5 sebagai calon anggota kabinet dan para ustadz-ustadzah.

Jika misalnya, seorang calon ketua OPPM itu disuruh untuk berkampanye di depan anak-anak. Kali ini semua anakmempunyai hak sebagai pemilih, maka dapat dipastikan akan terjadi kekacauan.

Calon nomor satu berkampanye, jika ia menjadi ketua maka kegiatan ekstrakulikuler akan ditambah dengan ekstra berenang, arung jeram, mendaki gunung, dan ekstra lain yang belum ada. Bisa dipastikan, anak-anak yang ekskul freak akan memilih si calon pertama. Sedangkan, mereka yang nggak doyan menggerakkan badan untuk kegiatan selain di dalam kelas, mereka akan ogah untuk memberikan suaranya untuk calon ini.

Calon kedua berorasi, jika ia jadi ketua nantinya maka pembayaran akan digratiskan. Karena ia anak seorang pengusaha besar yang menggurita dan sanggup menanggung semua kebutuhan. Ia akan menyuntikkan dana besar-besaran untuk menambah fasilitas supaya pondok terlihat lebih modern.

Calon ketiga mulai naik podium. Ia menjanjikan, jika dirinya menjadi ketua kelak kegiatan kerohanian ditingkatkan. Bahkan jika perlu wajib hafalan Qur’an 3 juz per tahun. Akandidatangkan habib-habib untuk lebih rutin bershalawat. Akan pula didatangkan tokoh-tokoh agama kaliber seprti Ust. Yusuf Mansur, Ust. Solmet, Ust. Felix Siauw, Mamah Dedeh untuk pengajian-pengajian akbar. Bisa jadi, stasiun tv pun akan diundang untuk meliput. Kan keren kalo pondoknya masuk tipi. Gitu.

Calon keempat lain lagi kata manisnya. Ia ingin ketikamasa jabatannya sebagai ketua, lauk pauk akan ditingkatkan. Perbaikan gizi, kilahnya. Setiap hari menunya spesial. Ada sate, gulai, fried chicken nya KFC, rendang, pizza, spaghetti, bakso tenis atau bakso basket sekalian. Tiap minggunya akan ditambah dengan susu sapi murni langsung dari peternakan sapi terbaik di ostrali. Katanya juga biar cepet bisa ngomong nginggris cas cis cus nggak pake mikir. Belum cukup, buah-buahan juga akan dibagikan sehabis sarapan setiap hari. Buahnya pun seperti duren, anggur merah, apukat, blueberry, cheery, buah naga, jeruk bali dan buah simalakama.

Jika seperti ini kondisinya, bisa dipastikan akan terjadi kekacauan dan kerusuhan. Anak-anak kelas satu ribut mengelu-elukan si calon nomor 4. Karena selama ini mereka merasa belum betah karena makanan pondok yang tergolong sederhana.

Anak kelas 4 dan 3 intensive yang lagi on fire-on fire nya lebih sibuk menganjurkan calon nomor 1. Karena dengan begitu, mereka akan mempunyai waktu bermain lebih banyak.

Beda lagi dengan anak kelas enam dan kelas lima yang sudah lebih bisa berfikir. Mereka merasa calon nomor tiga paling baik. Mungkin, karena mereka merasa hidup di pondok tinggal menghitung hari. Jadi lebih baik tobat sebelum meninggalkan pondok dari pada bikin dikenang nggak baik sama adek-adeknya.

Nah, calon kedua sangat diharapkan oleh anak-anak kurang mampu dalam segi finansial tapi berprestasi. Mereka berharap tidak lagi terusik tidurnya karena belum membayar bulanan sehingga tidak bisa mengikuti ujian. Mereka hanya perlu belajar yang sungguh-sungguh untuk dapat mematahkan kesombongan anak-anak metropolitan.

Itulah mengapa di Gontor yang berhak memilih hanyalah orang-orang yang ‘alim dan faqih. Yang dalam bentuk nyatanya adalah dewan ustadzah sebagai musyrifah, dewan asatidz sebagai musyrif, dan teman-teman seangkatan si calon yang sudah lama hidup bersama dan tahu luar dalamnya.

Jadi, siapa yang dipilih jadi ketua di Gontor?

Gontor, punya kriteria tersendiri buat milih siapa yang bakal jadi ketua. Nggak cuma dari segi keintelektualan, terkenal, pinter ngomong, apalagi penampilan. Sederhana saja, ketua dipilih karena ia adalah orang yang paling diikhlasi oleh teman-temannya. Ketua bukan hanya masalah figur, tapi karena dia lahyang paling luwes pergaulannya. Paling bisa memahami orang lain, paling bisa memaklumi kekurangan dan bisa meng-improve kelebihan.  Bisa jadi, ketua diibaratkan sebagai seorang Ibu. Yang mampu mengurus bermacam-macam anaknya dan menempatkannya di tempat yang tepat. Dan juga, nggak selamanya ketua diambil dari kelas-kelas atas. Siapapun, jika ia memang berkompeten dan bertanggung jawab bisa menjadi ketua.

Terus, setelah semua memilih, tidak serta merta yang mendapatkan suara terbanyak itulah yang akan menjadi ketua. Masih terdapat banyak pertimbangan lagi. Terlebih tentang bagaimana akhlaqnya, suluknya, pegaulannya, etos kerjanya. Bisa jadi anak yang telah memperoleh banyak dukungan malah menjadi wakil, sekretaris, bendahara atau ketua bagian jika ia dinilai kurang bisa merangkul semua aspek. Maka bisa jadi anak yang hanya punya suara selisih dibawahnya yang menjadi ketua karena ia dinilai lebih mampu. Nah, semua itu ada rapatnya sendiri. Jadi tidak begitu saja diputuskan dia yang favorit, dia yang banyak dipilih, dia yang menjadi ketua. Masih ada orang-orang bijak yang dimintai pendapatnya sebagi keputusan final. Selain ikhtiar sedemikian rupa, kami tetap tak meninggalkan istikhoroh. Menyerahkan kembali pada Sang Pemilik Kebijaksanaan. Allah lebih tahu akan apa yang terjadi nanti. Baik dan buruknya,biarlah Allah yang memilihkan.

Mufradat (Kosa kata):
-‘alim                           : bentuk single dari ‘ulama. Artinya, orang yang tahu suatu ilmu
-faqih                           : hampir sama dengan ‘alim, tapi ia lebih ke ilmu-ilmu fiqh

Musyrif/musyrifah      : pembimbing. Musyrif untuk maskulin Musyrifah untuk feminin

No comments:

Post a Comment