Postingan kali ini bukan membahas tentang pemilu yang
ngeributin partai dan caleg mana yang harus dipilih. Saya ingin bercerita sedikit
tentang pemilu yang ada di Gontor.
Emang ada gitu pemilu di pondok? Apanya yang mau dipilih?
Kyainya?
Bukan, bukan. Di pondok kan juga ada organisasi, men. Pondok
kami punya dua organisasi besar. Satu, OPPM, yang mengurusi keseharian santri
dari bangun tidur sampai tidur lagi dan segala ekskul-lebih kaya OSIS sih. Dan dua,
Dewan KORDINATOR yang mengurusi kegiatan kepramukaan. Bedanya, kalo di SMP dan
SMA kita ngurusin selama jam sekolah doang, organisasi yang di pondok kita
ngurusinnya 24 jam. Kebayang betapa ribetnya hidup dengan keterikatan sama
organisasi kaya gitu.
Hm, jangan salah, meskipun kami anak pondok, tapi kami juga
pernah berpengalaman dalam urusan pilih-memilih. Pura-pura jadi anggota DPR
pernah, sidang setingkat menteri pernah, pura pura jadi badan eksekutif juga
pernah.
Alaaah... Paling juga pemilu abal-abal gitu kan?
Sistem pemilu di Gontor, nggak seperti pemilu pada umumnya,
yang ‘jadi’ adalah yang memenangkan prosentasesuara terbanyak. Iya, kami
menggunakan sistem demokrasi, tapi demokrasi yang kami gunakan adalah demokrasi
terpimpin. Dimana pemilih hanya terbatas pada orang-orang yang faqih
lagi ‘alim tentang hal ini. Jadi,
kalopun ada pemilihan tentang ketua OPPM misalnya. Nggak semua penduduk
Darussalam dari kelas 1-6 akan ikut memilih. Pemilih lebih difokuskan kepada
kelas 5 sebagai calon anggota kabinet dan para ustadz-ustadzah.
Jika misalnya, seorang calon ketua OPPM itu disuruh untuk
berkampanye di depan anak-anak. Kali ini semua anakmempunyai hak sebagai
pemilih, maka dapat dipastikan akan terjadi kekacauan.
Calon nomor satu berkampanye, jika ia menjadi ketua maka
kegiatan ekstrakulikuler akan ditambah dengan ekstra berenang, arung jeram,
mendaki gunung, dan ekstra lain yang belum ada. Bisa dipastikan, anak-anak yang
ekskul freak akan memilih si calon pertama. Sedangkan, mereka yang nggak
doyan menggerakkan badan untuk kegiatan selain di dalam kelas, mereka akan ogah
untuk memberikan suaranya untuk calon ini.
Calon kedua berorasi, jika ia jadi ketua nantinya maka
pembayaran akan digratiskan. Karena ia anak seorang pengusaha besar yang
menggurita dan sanggup menanggung semua kebutuhan. Ia akan menyuntikkan dana
besar-besaran untuk menambah fasilitas supaya pondok terlihat lebih modern.
Calon ketiga mulai naik podium. Ia menjanjikan, jika dirinya
menjadi ketua kelak kegiatan kerohanian ditingkatkan. Bahkan jika perlu wajib hafalan
Qur’an 3 juz per tahun. Akandidatangkan habib-habib untuk lebih rutin
bershalawat. Akan pula didatangkan tokoh-tokoh agama kaliber seprti Ust. Yusuf Mansur,
Ust. Solmet, Ust. Felix Siauw, Mamah Dedeh untuk pengajian-pengajian akbar.
Bisa jadi, stasiun tv pun akan diundang untuk meliput. Kan keren kalo pondoknya
masuk tipi. Gitu.
Calon keempat lain lagi kata manisnya. Ia ingin ketikamasa
jabatannya sebagai ketua, lauk pauk akan ditingkatkan. Perbaikan gizi,
kilahnya. Setiap hari menunya spesial. Ada sate, gulai, fried chicken nya KFC, rendang,
pizza, spaghetti, bakso tenis atau bakso basket sekalian. Tiap minggunya akan
ditambah dengan susu sapi murni langsung dari peternakan sapi terbaik di ostrali.
Katanya juga biar cepet bisa ngomong nginggris cas cis cus nggak pake mikir. Belum
cukup, buah-buahan juga akan dibagikan sehabis sarapan setiap hari. Buahnya pun
seperti duren, anggur merah, apukat, blueberry, cheery, buah naga, jeruk bali
dan buah simalakama.
Jika seperti ini kondisinya, bisa dipastikan akan terjadi
kekacauan dan kerusuhan. Anak-anak kelas satu ribut mengelu-elukan si calon
nomor 4. Karena selama ini mereka merasa belum betah karena makanan pondok yang
tergolong sederhana.
Anak kelas 4 dan 3 intensive yang lagi on fire-on fire nya
lebih sibuk menganjurkan calon nomor 1. Karena dengan begitu, mereka akan
mempunyai waktu bermain lebih banyak.
Beda lagi dengan anak kelas enam dan kelas lima yang sudah
lebih bisa berfikir. Mereka merasa calon nomor tiga paling baik. Mungkin,
karena mereka merasa hidup di pondok tinggal menghitung hari. Jadi lebih baik
tobat sebelum meninggalkan pondok dari pada bikin dikenang nggak baik sama
adek-adeknya.
Nah, calon kedua sangat diharapkan oleh anak-anak kurang
mampu dalam segi finansial tapi berprestasi. Mereka berharap tidak lagi terusik
tidurnya karena belum membayar bulanan sehingga tidak bisa mengikuti ujian.
Mereka hanya perlu belajar yang sungguh-sungguh untuk dapat mematahkan
kesombongan anak-anak metropolitan.
Itulah mengapa di Gontor yang berhak memilih hanyalah
orang-orang yang ‘alim dan faqih. Yang dalam bentuk nyatanya adalah
dewan ustadzah sebagai musyrifah, dewan asatidz sebagai musyrif,
dan teman-teman seangkatan si calon yang sudah lama hidup bersama dan tahu luar
dalamnya.
Jadi, siapa yang dipilih jadi ketua di Gontor?
Gontor, punya kriteria tersendiri buat milih siapa yang bakal
jadi ketua. Nggak cuma dari segi keintelektualan, terkenal, pinter ngomong, apalagi
penampilan. Sederhana saja, ketua dipilih karena ia adalah orang yang paling
diikhlasi oleh teman-temannya. Ketua bukan hanya masalah figur, tapi karena
dia lahyang paling luwes pergaulannya. Paling bisa memahami orang lain, paling
bisa memaklumi kekurangan dan bisa meng-improve kelebihan. Bisa jadi, ketua diibaratkan sebagai seorang
Ibu. Yang mampu mengurus bermacam-macam anaknya dan menempatkannya di tempat
yang tepat. Dan juga, nggak selamanya ketua diambil dari kelas-kelas atas.
Siapapun, jika ia memang berkompeten dan bertanggung jawab bisa menjadi ketua.
Terus, setelah semua memilih, tidak serta merta yang
mendapatkan suara terbanyak itulah yang akan menjadi ketua. Masih terdapat
banyak pertimbangan lagi. Terlebih tentang bagaimana akhlaqnya, suluknya, pegaulannya,
etos kerjanya. Bisa jadi anak yang telah memperoleh banyak dukungan malah menjadi
wakil, sekretaris, bendahara atau ketua bagian jika ia dinilai kurang bisa merangkul
semua aspek. Maka bisa jadi anak yang hanya punya suara selisih dibawahnya yang
menjadi ketua karena ia dinilai lebih mampu. Nah, semua itu ada rapatnya
sendiri. Jadi tidak begitu saja diputuskan dia yang favorit, dia yang banyak
dipilih, dia yang menjadi ketua. Masih ada orang-orang bijak yang dimintai
pendapatnya sebagi keputusan final. Selain ikhtiar sedemikian rupa, kami tetap
tak meninggalkan istikhoroh. Menyerahkan kembali pada Sang Pemilik
Kebijaksanaan. Allah lebih tahu akan apa yang terjadi nanti. Baik dan
buruknya,biarlah Allah yang memilihkan.
-‘alim :
bentuk single dari ‘ulama. Artinya, orang yang tahu suatu ilmu
-faqih :
hampir sama dengan ‘alim, tapi ia lebih ke ilmu-ilmu fiqh
Musyrif/musyrifah :
pembimbing. Musyrif untuk maskulin Musyrifah untuk feminin
No comments:
Post a Comment