Selama ini, saya selalu berpikir bahwa hidup saya terlalu monoton. Hampir seluruh waktu, saya habiskan
di pondok. Pendidikan formal (negeri) hanya sebatas SD dan SMP.Itupun juga nyambi
jadi anak pondok.
Iya, mulai SMP saya sudah mondok. SMA nya di pondok.
Universitas pun juga di pondok. Sampai
saat ini, saya sudah mengantongi angka 8 untuk kehidupan di pondok. Saya nggak
nyangka, ternyata jumlahnya dua kali lipat dari waktu yang saya habiskan di
rumah.
Nah, ternyata kondisi kayak gini punya
pengaruh besar terhadap keberagaman teman saya. Bisa dibilang, saya hanya punya
2 kelompok besar teman. Teman masa SMP-non pondok dan teman ketika di pondok.
#1 CHAZPER (rek, ini nama kok alay banget
ya ternyata :P)
Ini teman-teman saya ketika
SMP. Kami teman sekelas, terdiri dari
24 anak. Tidak berubah dari awal masuk sampai kelas sembilan. Pun dengan nomor
absen yang sangat kami hafal sampai sekarang. Seringkali, nomor-nomor tersebut
malah kami jadikan nomor keberuntungan kami.
Saya memang hanya teman SMP mereka. Pastinya,
teman SMA selalu lebih seru ketimbang teman masa ababil.Tapi buat saya pribadi, mereka adalah ‘sesuatu’ bua tsaya.Merekalah ’pengalaman’ saya. Mereka adalah harta saya. Saya nggak
pernah menyangka, kelak saya sangat berterima kasih pernah dipertemukan dengan
mereka. Paling nggak, mereka yang membawa warna lain dalam dunia pondok saya.
-Yang
ini masuk ke sub kecil-
#Temansepermainandarikecil
Dulu,
saya punya trio. Kesemuanya lebih tua
dari saya. Kami, sebagai trio yang kompak,
suka runtang-runtung kemana-mana bareng. Suka pake baju kembar 3, saling tukar kado,
saling mengunjungi rumah satu sama lain,
dan saya kecil bahkan rela membagi bapak-ibu saya untuk dipanggil ibu dan bapak juga sama mereka. Sampai saat ini, kami masih sering kontak
meski lebih sering menjadi duo saja. Namun ternyata, yang duo ini yang awet. Dari dia-lah saya mempunyai sosok kakak. Karena dialah saya bisa dipanggil dan diperlakukan sebagai ‘dek’.
#2
TemanPondok (GontorPutri-masa sepantaran
SMA)
Semenjak saya masuk Gontor, paling tidak saya mengalami resolusi besar
jumlah teman sebanyak empat kali. Actually, sudah lebih dari 10x. Itu ples yang
kecil-kecil sih. Karena di pondok kami, setiap tahun terjadi rolling kamar dan
asrama.
Jika ditotal, inilah jumlah teman
seangkatan saya di Gontor:
Kelas 1-6
Gontor Putri 1 (termasuk Gontor Putri 4 dan 6): 487
Sebagai tenaga pengajar: 137
Ini belum jumlah dengan teman di Gontor
Putri 3 dan Gontor Putri 5.
Teman Gontor juga bisa dibagi dua golongan
besar lagi. Yang kelahiran ’94 dan ’95, dan sebagian kecil kelahiran ’96. Jadi,
saya terhitung telat setahun sehingga seangkatan dengan adik kelas. Normalnya,
sekarang saya semester 4, tapi saya
masih semester 2. Bahkan, senior saya di pondok dengan umur yang sama sudah ada
yang masuk semester 6. Dan ugh, jadi maba diantara temen yang sudah masuk
‘senior’, betul-betul masa ospek tersendiri buat saya.
Meski moto angkatan kami one heart, one
thought, one dream, one direction, setiap dari kami toh pasti berbeda. Setiap
orang punya kelebihan dan keunikan tersendiri. Bahkan, meskipun semua bakat dan
skill ada dalam angkatan kami. Tapi tetap saja, bagi saya, kami ‘sejenis’.
Begitulah, mengapa kehidupan saya cuma
terdiri dari 2 dunia saja. Dunia pondok, dan dunia bersama teman SMP. Saya
jenuh se-jenuh-jenuhnya dengan pergaulan yang terbatas. Jika saya bosan dengan
dunia pondok, saya hanya punya satu dunia lain sebagai tempat pelarian. Nah,
ketika saya bosan dengan keduanya? Saya hanya bisa sendiri dan gigit jari.
Hal ini baru saya rasakan ketika saya
masuk jenjang perkuliahan. Dunia terasa sempit. Saya nggak tahu dan nggak ada
referensi tentang dunia perkuliahan. Saya ingin mendapat tempat yang tepat
untuk kuliah. Karena ketika kita sudah berpredikat sebagai mahasiswa, orang mulai
terasa mengakui kita. Keberadaan kita mulai dianggap dan kontribusi kita mulai
dinanti.
Untuk menentukan kuliah, jurusan dan
kampus saja misalnya. Saya pastinya butuh banyak masukan, pertimbangan, dan referensi.
Saya nggak bakal tahu kalo saya selamanya ada di pondok dan berteman dengan
orang-orang pondok. Mereka juga sama dengan saya yang belum merasakan dan
berpengalaman dengan dunia luar pondok ketika kuliah, terlebih memilih kampus.
Intinya, no solution.
Dari situ, saya semakin peka terhadap
keberadaan teman di sekitar saya. Siapapun itu, ternyata bisa dijadikan satu
dunia tersendiri yang berbeda. Saya nggak menyesal tidak hidup di luar pondok,
karena saya bisa membuat dunia saya sendiri dengan orang-orang terdekat saya.
Maka, tengoklah sekitar anda, terlalu banyak dunia yang bisa diciptakan,
terlalu banyak cerita yang dapat dirangkai. Tergantung dengan kacamata apa anda
melihatnya.
Hidup dalam pondok terkadang terasa
seperti katak dalam tempurung. Untuk itulah saya sangat bersyukur atas kepernahan
saya hidup di luar pondok, meski hanya sebentar. Saya memang tidak bisa menyingkirkan
tempurungnya, tapi saya masih bisa membuatnya menjadi transparan.
Walaupun saya cuma punya 24 orang di
chazper, tapi itu sudah worth it. Setiap dari mereka telah menjadi satu dunia
buat saya. Semenjak itu, saya mulai merentangkan tangan, melebarkan sayap
pergaulan seluas-luasnya. Mencari teman sebanyak-banyaknya. Teman dari dunia
yang berbeda. Sehingga saya punya lebih dari satu cerita, saya punya lebih dari
satu dunia.
![]() |
| Terimakasih teman :) |

No comments:
Post a Comment