A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Saturday, May 10, 2014

Lebih dari Dua Dunia

Selama ini, saya selalu berpikir bahwa hidup saya terlalu monoton. Hampir seluruh waktu, saya habiskan di pondok. Pendidikan formal (negeri) hanya sebatas SD dan SMP.Itupun juga nyambi jadi anak pondok.

Iya, mulai SMP saya sudah mondok. SMA nya di pondok. Universitas pun juga di pondok. Sampai saat ini, saya sudah mengantongi angka 8 untuk kehidupan di pondok. Saya nggak nyangka, ternyata jumlahnya dua kali lipat dari waktu yang saya habiskan di rumah.

Nah, ternyata kondisi kayak gini punya pengaruh besar terhadap keberagaman teman saya. Bisa dibilang, saya hanya punya 2 kelompok besar teman. Teman masa SMP-non pondok dan teman ketika di pondok.

#1 CHAZPER (rek, ini nama kok alay banget ya ternyata :P)

Ini teman-teman saya ketika SMP. Kami teman sekelas, terdiri dari 24 anak. Tidak berubah dari awal masuk sampai kelas sembilan. Pun dengan nomor absen yang sangat kami hafal sampai sekarang. Seringkali, nomor-nomor tersebut malah kami jadikan nomor keberuntungan kami.

Saya memang hanya teman SMP mereka. Pastinya, teman SMA selalu lebih seru ketimbang teman masa ababil.Tapi buat saya pribadi, mereka adalah ‘sesuatu’ bua tsaya.Merekalah ’pengalaman’ saya. Mereka adalah harta saya. Saya nggak pernah menyangka, kelak saya sangat berterima kasih pernah dipertemukan dengan mereka. Paling nggak, mereka yang membawa warna lain dalam dunia pondok saya.

-Yang ini masuk ke sub kecil-

#Temansepermainandarikecil
Dulu, saya punya trio. Kesemuanya lebih tua dari saya. Kami, sebagai trio yang kompak, suka runtang-runtung kemana-mana bareng. Suka pake baju kembar 3, saling tukar kado, saling mengunjungi rumah satu sama lain, dan saya kecil bahkan rela membagi bapak-ibu saya untuk dipanggil ibu dan bapak juga sama mereka. Sampai saat ini, kami masih sering kontak meski lebih sering menjadi duo saja. Namun ternyata, yang duo ini yang awet. Dari dia-lah saya mempunyai sosok kakak.  Karena dialah saya bisa dipanggil dan diperlakukan sebagai ‘dek’.

#2 TemanPondok (GontorPutri-masa sepantaran SMA)

Semenjak saya masuk Gontor, paling tidak saya mengalami resolusi besar jumlah teman sebanyak empat kali. Actually, sudah lebih dari 10x. Itu ples yang kecil-kecil sih. Karena di pondok kami, setiap tahun terjadi rolling kamar dan asrama.

Jika ditotal, inilah jumlah teman seangkatan saya di Gontor:

Kelas 1-6  Gontor Putri 1 (termasuk Gontor Putri 4 dan 6): 487
Sebagai tenaga pengajar: 137
Ini belum jumlah dengan teman di Gontor Putri 3 dan Gontor Putri 5.

Teman Gontor juga bisa dibagi dua golongan besar lagi. Yang kelahiran ’94 dan ’95, dan sebagian kecil kelahiran ’96. Jadi, saya terhitung telat setahun sehingga seangkatan dengan adik kelas. Normalnya, sekarang saya  semester 4, tapi saya masih semester 2. Bahkan, senior saya di pondok dengan umur yang sama sudah ada yang masuk semester 6. Dan ugh, jadi maba diantara temen yang sudah masuk ‘senior’, betul-betul masa ospek tersendiri buat saya.

Meski moto angkatan kami one heart, one thought, one dream, one direction, setiap dari kami toh pasti berbeda. Setiap orang punya kelebihan dan keunikan tersendiri. Bahkan, meskipun semua bakat dan skill ada dalam angkatan kami. Tapi tetap saja, bagi saya, kami ‘sejenis’.

Begitulah, mengapa kehidupan saya cuma terdiri dari 2 dunia saja. Dunia pondok, dan dunia bersama teman SMP. Saya jenuh se-jenuh-jenuhnya dengan pergaulan yang terbatas. Jika saya bosan dengan dunia pondok, saya hanya punya satu dunia lain sebagai tempat pelarian. Nah, ketika saya bosan dengan keduanya? Saya hanya bisa sendiri dan gigit jari.

Hal ini baru saya rasakan ketika saya masuk jenjang perkuliahan. Dunia terasa sempit. Saya nggak tahu dan nggak ada referensi tentang dunia perkuliahan. Saya ingin mendapat tempat yang tepat untuk kuliah. Karena ketika kita sudah berpredikat sebagai mahasiswa, orang mulai terasa mengakui kita. Keberadaan kita mulai dianggap dan kontribusi kita mulai dinanti.

Untuk menentukan kuliah, jurusan dan kampus saja misalnya. Saya pastinya butuh banyak masukan, pertimbangan, dan referensi. Saya nggak bakal tahu kalo saya selamanya ada di pondok dan berteman dengan orang-orang pondok. Mereka juga sama dengan saya yang belum merasakan dan berpengalaman dengan dunia luar pondok ketika kuliah, terlebih memilih kampus. Intinya, no solution.

Dari situ, saya semakin peka terhadap keberadaan teman di sekitar saya. Siapapun itu, ternyata bisa dijadikan satu dunia tersendiri yang berbeda. Saya nggak menyesal tidak hidup di luar pondok, karena saya bisa membuat dunia saya sendiri dengan orang-orang terdekat saya. Maka, tengoklah sekitar anda, terlalu banyak dunia yang bisa diciptakan, terlalu banyak cerita yang dapat dirangkai. Tergantung dengan kacamata apa anda melihatnya.

Hidup dalam pondok terkadang terasa seperti katak dalam tempurung. Untuk itulah saya sangat bersyukur atas kepernahan saya hidup di luar pondok, meski hanya sebentar. Saya memang tidak bisa menyingkirkan tempurungnya, tapi saya masih bisa membuatnya menjadi transparan.

Walaupun saya cuma punya 24 orang di chazper, tapi itu sudah worth it. Setiap dari mereka telah menjadi satu dunia buat saya. Semenjak itu, saya mulai merentangkan tangan, melebarkan sayap pergaulan seluas-luasnya. Mencari teman sebanyak-banyaknya. Teman dari dunia yang berbeda. Sehingga saya punya lebih dari satu cerita, saya punya lebih dari satu dunia.

Terimakasih teman :)

No comments:

Post a Comment