A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Tuesday, March 18, 2014

Tadzkiroh!



17-2-2014

Hari ini tadzkiroh datang beruntun. Tiga lembar sekaligus. Totalnya ada 4 pelajaran, ditambah 1 pelajaran hishoh asli. Semuanya saya terima dengan legawa saja. Nggak ngedumel dan menceracau seperti teman lainnya. Toh, saya juga sedang sangat mengantuk. Berjalan saja saya merem melek. Jadi, ketika tadzkiroh sampai di tangan, saya terima nyaris tanpa komen karena selanjutnya, bruuukkk… saya terlelap.
Malam telah tua ketika saya terbangun. Tetapi waktu penantian adzan tetap terasa lambat mengalun. Saya putuskan untuk mulai berjibaku membuat teaching preparation hingga adzan menjelang. Bertahan, dengan angin yang bergoyang dalam perut. Walaupun kantuk menggantung, saya tetap menulis, membaca-baca materi yang akan saya sampaikan. Belajar lagi. Meskipun guru, masih tetap butuh belajar kan?
Saya suka bangun pagi-pagi sekali, seperti hari ini. Dengan begitu, saya bisa rajin menyapa hari. Saya bisa mandi dengan tenang dan berkemas tanpa berlari. Hanya saja, kenyataannya adalah saya sering lupa sarapan. Entahlah, saya sendiri merasa tidak lapar. Kebetulan pula hari ini anak-anak kamar saya terlambat mengambil jatah makan. Hanya ada nasi tanpa teman. Saya memutuskan untuk tidak sarapan.

Jam pelajaran pertama datang. Pelajaran asli.



Nyaris tanpa persiapan. Satu minggu yang lalu, saya berikan anak didik saya ulangan umum. Sampai hari ini, saya belum sempat mengoreksi (sebetulnya juga karena saya terlalu cepat tidur semalam, hehe). Saya hanya sempat memberikan stempel bunga-tanda saya-saja pada buku mereka.

Selang satu jam pelajaran dan istirahat, saya kembali masuk kelas. Jam pengganti. Kali ini saya lumayan menguasai keadaan. Karena saya sering bolak-balik menggantikan guru pengampu mereka-di kelas yang sama-. Jadi, saya agak nyante dan tau harus dibawa kemana jam pelajaran ini. Saya pun menyelesaikan satu jam pelajaran dengan mulus dan sukses.

Dan inilah jam pelajaran paling berat dan membosankan. Jam ke lima dan enam. Jam siang, dimana tinggal sisa-sisa tenaga dan pikiran. Presentase kehadiran ruh belajar menguap. Walau begitu, saya tetap semangat. Saya selalu teringat pesan pondok yang ini:

من أكثر فعلا أكثر جزاء
Siapa yang banyak berbuat, banyak pula balasan (pahalanya). Insya Allah.
Santai, saya membawa sepeda pinjaman dari senior untuk ke kelas yang letaknya lumayan jauh. Saya sengaja datang pada waktu maksimum toleransi kedatangan. Kebetulan pula, petugas jadwal keliling adalah teman satu kamar. Jadi, masuk kelasnya ntar-ntar aja lah. :p

Sesampainya di gedung kelas, saya baru tahu. Rupanya saya menggantikan ibu-ibu madamat. Dan Alhamdulillah-nya, ibu tersebut telah anteng di dalam kelas sedang mengajar calon kelas yang akan saya masuki. Yeah!

Masih ada satu jam lagi, pikir saya. Saya menunggu dengan membaca-baca. Ketika bel pergantian pelajaran berbunyi, saya segera menuju kelas berikutnya. Saya berpapasan dengan ibu-ibu madamat tadi dan hey! Bukankah jam ini saya juga menggantikan beliau di kelas yang berbeda?

“Lho, Ustadzah, ayyu fashlin satadkhulin?” –anda masuk kelas berapa?-. Rupanya petugas jadwal keliling sudah hafal dengan para pengajar di gedung ini. Saya, yang pendatang baru pasti tidak dikenali mengajar di sini. Tidak ada lagi kelas yang kosong. Semua pengajar sudah bersiap masuk di depan kelas masing-masing. Jadi, untuk apa saya di sini?

Saya buru-buru menggeleng. Menuntun sepeda dan mundur pulang. Saya mesem-mesem sepanjang perjalanan. Betapa bahagia tidak jadi mengajar di siang terik ini.

Hari ini, saya menerima tadzkiroh yang setumpuk itu dengan ikhlas, dan batal mengajar dengan ikhlas.
:D

Sajak Saya Lebih Memilih



Saya lebih memilih berjalan kaki, jika memang bermotor dan bersepeda membuat orang tidak mau menyapa orang lain yang lewat tepat disebelahnya.

Saya lebih memilih berada di sektor yang biasa saja, tapi penuh rasa kekeluargaan dan kasih sayang, dari pada berada di sektor mentereng dan bersama orang keren tapi tak ada benang merah yang menyatukannya

Saya lebih memilih kuliah dalam pondok, daripada keluar pondok dan mencari kampus lain yang belum jelas kualifikasinya. Jika di pondok, saya menjadi guru, ples mahasiswi, ples pembimbing kamar, konsulat, bagian, ples asisten kelas, dan otomatis santri juga. Di luar pondok, kalopun saya ingin kerja part time misalnya, bisa jadi saya mengajar lagi kan? Sama saja lah.

Saya lebih memilih mengajar tanpa bayaran, daripada mengajar dengan bayaran tetapi anak-anak didik berlaku seperti kurang didikan. Jika guru dibayar, anak bisa menuntut hak dan perlakuan lebih, karena ia ‘membayar’ gurunya. Tetapi, jika guru tidak dibayar, maka ketika anak berlaku kurang ajar pada sang guru, punya apa ia untuk membela? Bahkan ia bukannya membayar, tetapi terus diberi.

Saya lebih memilih diam, jika dalam diam terdapat emas. Jika dengan diam saya lebih bisa menguasai emosi. Karena ketika marah dan menahan pedas, kondisi kita hampir sama. Bagaimana ekspresi kita ketika kepedasan adalah perwujudan gejolak marah yang tertumpahkan.

*Ini enam point pertama saya dalam sajak ‘saya lebih memilih’. Bagaimana dengan anda?


Saturday, March 8, 2014

Manusia Setengah Bunglon

Setiap orang memang diciptakan berbeda. Masing-masing punya warna. Mungkin itu sebabnya, mengapa dunia terlihat indah.
Saya sendiri jika ditanya apa warna kesukaan saya, saya akan kesulitan menemukan jawabannya. Entahlah. Saya pernah suka putih. Saya suka warna seperti warna kuning telur. Saya suka kilau warna tembaga. Saya suka damainya biru. Saya segar ketika melihat hijau. Saya suka coklat batu bata.Panjang jika harus diuraikan. Sekali lagi,entahlah.
Agaknya saya kurang percaya dengan orang yang cuma suka satu warna. Maaf, jika kalian tidak setuju dengan saya. Tapi, bagaimana bisa kita menggunakan satu warna dan menyukainya begitu saja, sedangkan tubuh kita saja terdiri lebih dari satu warna?
Setiap warna itu berbeda. Begitupun karakteristiknya.
Manusia akan nyaman dan merasa cocok jika ia berada di tengah corak yang sama dengan dirinya. Secara tak sengaja pun, kita mencari orang yang sewarna dengan kita. Bukan. Bukan berdasar warna kesukaan. Tapi warna diri.
Tapi, bagaimana jika orang tersebut mempunyai banyak warna dalam hidupnya?
Saya punya teman. Ia sangat supel dan luwes dalam pergaulan. Bisa jadi ia berubah lebih dari 4 kali dalam sehari. Ketika dengan teman A ia agak childish, menggelendot manja. Ketika bersama dengan teman B ia bertindak layaknya remaja awal, tertawa riang gila-gilaan. Di lain waktu, saya menemukannya terlihat begitu dewasa dengan peran sebagai ketua organisasi yang memberi wejangan kepada anak buahnya. Lain kesempatan, ia telah berubah menjadi mahasiswi intelek penuh prestasi dengan pemikiran yang tajam. Ketika bersama dengan para akhwat rohis, ia pun sempurna menjelma menjadi muslimah yang alim dan kaffah.
Saya sempat menegurnya, agar menentukan satu corak warna saja untuk dasar kehidupannya. Entah ia menggubris entah tidak, ia tetap seperti yang saya lihat selama ini.
Suatu waktu, ketika kebosanan membungkus kami, saya membacakan question of life yang saya temukan di blog kevin anggara.
Pertanyaan ke 14:
“Apa sih perbedaan kamu yang membuat kamu itu berbeda banget sama orang lain?”
Jawabannya sungguh di luar dugaan saya.
“Aku punya banyak sifat. Bermacam-macam. Jadi aku bisa masuk ke kehidupan orang manapun yang aku mau dan aku bisa bergabung dengan mereka.”
Buat apa? Mengapa harus banyak warna dalam satu diri manusia? Bukan kah denganbegitu dia menyamarkan warnanya sendiri? Tidakkah itu menjadi seperti orang yang tidak mempunyai jati diri?
Bukan berarti saya tidak menyetujuinya. Hanya saja, jika ia punya satu warna khas saja yang tidak melebur jika bersama warna lain sih, nggak masalah. Tapi ini, seolah semua berwarna berpadu. Abstrak. Nggak jelas.
Manusia setengah bunglon. Bahkan, bunglon pun punya warna tetap pada kulitnya.
Memang sih, untuk bisa adaptasi atau berbaur dengan orang itu dengan memposisiskan diri kita di tengah. Tapi, bukan berarti kita nggak punya pendirian lantas manut saja dengan arus kan? Kata mutiara arab tertulis,
وإن تدنو مني تدنو منك مودتي و إن تنأ عني تلقني عنك نا ئيا
Jika kalian mendekatiku, maka kau akan mendekatimu. Jika kamu menjauhiku, maka kau akan menemukan ku menjauh.
كوني عند حسن ظنهم
Jadilah sebaik, seperti apa yang orang lain kira.
Terus, dimana kata “menjadi diri sendiri” itu berada?

Oke lah, jika mempunyai banyak warna dalam diri anda. Tetapi, anda harus ambil satu diantaranya dan jadikan itu sebagai warna dasar kehidupan. Sehingga anda akan tetap bergeming meski sekitar anda bergumul rusuh. Tanpa mencampur warna orang lain ke dalam pribadi anda. Ya?