Mimpi maupun harapan merupakan alasan terbesar untuk hidup. Sadar nggak sadar, lewat
‘pingin-pingin’ itu kita mau bangun dari tidur. Kita mau berbuat dan kita mau
berkorban. Kita ingin
jadi bintang kelas, maka kita harus berangkat sekolah dan mematuhi peraturan.
Kita ingin sarapan pecel, kita harus beranjak ke penjual nasi pecel dan
merelakan tiga lembar uang ribuan. Harapan gebetan ngelirik juga lah yang membuat anda mau mandi
setelah sekian lama puas dengan cuci muka dan sikat gigi saja.
Saya pernah membaca, tentang seseorang. Dia mempunyai mimpi untuk mencapai puncak Gunung Rinjani. Ia
pun dengan teman-temannya kemudian melakukan persiapan untuk menaklukkan salah satu gunung tertinggi tersebut. Setelah mendaki
berhari-hari, dihalangi oleh ranting yang mengular, kabut yang meyesakkan paru,
sedikit lagi-sekitar perjalanan sehari, ia bisa melihat sunrise di puncak
gunung. Tapi, apa yang terjadi kemudian membuat saya benar-benar kecewa. Ia
memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan dan justru mempersiapkan diri untuk turun. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab:
Jika saya sampai pada puncaknya sekarang, maka
saya akan merasakan kepuasan dan tidak lagi mempunyai keinginan untuk
mencapainya kembali. Biarlah seperti ini, sehingga saya masih tetap mempunyai
mimpi untuk mendakinya lagi dan lagi. Dan ia pun turun.
Entah bagaimana saya harus menggambarkan perasaan
orang-orang seperti itu. Saya sendiri selalu ingin sepertinya. Hidup yang dipenuhi mimpi-mimpi yang belum tercapai. Hari-hari yang padat dengan rutinitas sampai
membuat saya kecapekan. Hari-hari dimana saya harus bekerja keras dan
menguras tenaga. Waktu
yang selalu terasa kurang untuk membaginya dengan banyak orang yang harus ditemui. Dan berbagai pencapaian yang ‘tidak harus sampai pada puncaknya’. Saya sangat menikmati hidup seperti ini dan
tidak ingin melepaskannya.
Terkadang, saya merasa khawatir. Saya menghawatirkan, bagaimana jika semua mimpi
saya telah tercapai? Apa pencapaian saya selanjutnya? Apakah saya sudah tak mempunyai mimpi
untuk diperjuangkan kembali? Kalau begitu, hidup saya tinggal sebentar lagi dong? Hidup saya pastilah akan hambar dan datar-datar saja. Karena saya toh sudah mendapat apa yang saya mau selama ini.
Walaupun, jika mau berhitung, saya sudah
mendapat comfort zone saya. Apa yang orang dapatkan di masa senja telah saya
genggam di masa yang terbilang muda-jika tak mau dibilang bocah.
Tapi saya kembali berpikir. Jika usai sudah
mimpi-mimpi kita, kenapa tak menciptakan mimipi-mimpi baru? Bermimpi lagi, dan
berangan lagi. Berharap lagi dan berusaha lagi. Meskipun toh mimpi-mimpi baru
itu tak sebesar mimpi-mimpi sebelumnya.
Comfort zone memang selalu menjerat. Ia
layaknya candu yang melenakan. Banyak orang yang ketika telah mendapatkan
comfort zone nya, ia susah untuk bergerak. Melepaskannya pun tak kuasa.
Begitu juga dengan orang yang mempunyai mimpi yang menjulang. Meski toh ia termasuk orang yang susah puas, ia
akan mencapai batas limitnya suatu saat. Batasnya adalah langit. Langit
berhak berkehendak apapun. Membuat seseorang bertuah atau membuatnya
terjungkal.
Begitulah masa muda, masa puncak keinginan. Masa puncak di
mana mimpi banyak bertebaran dan menuainya. Masa dimana saya mampu merentangkan sayap selebar-lebarnya. Masa dimana dada saya sesak
oleh kebahagiaan.
Ah, kalau bisa saya ingin menghentikan masa. Saya sangat bahagia saat ini. Dan ini
umur paling hebat yang pernah saya rasakan. Andai, waktu mau berhenti.
Berhentilah di sini saja.
No comments:
Post a Comment