A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Monday, April 14, 2014

UTS-Benar-benar Ujian Tidak Serius

Datang lagi hari dimana pelajaran Hadits telah dijanjikan dengan UTS. Sebelumnya, UTS sempat ditunda karena dosen terlalu letih sehabis perjalanan jauh. Entahlah untuk hari ini, apakah akan tetap UTS atau ditunda lagi. Yang pasti, saya nggak belajar, nggak hapalan. Hari itu saya ingin merasa  berbahagia. Bawaannya pengin main terus. Jadi saya nyante senyante-nyantenya sepanjang sore. UTS nya sendiri dimulai selepas isya’. Masih lama. Saya berpositive thinking bahwa semua akan baik-baik saja.

Jam tujuh tepat, kami disuruh masuk. Bukan hanya 6 orang seperti yang sudah dijadwalkan perkelompok. Tapi 2 prodi. Okelah, kita masuk. Sepertinya akan diberikan materi tambahan. Saya mulai tersenyum tenang. Bayangan UTS mulai tampak kabur di mata saya.

Satu jam berlalu dan belum terlihat tanda-tanda akan diadakannya imtihan sebelum beliau berkata dengan tiba-tiba,

“Yak, cukup. Sekarang semua keluar. Saya adakan ujian lisan.”

Kelas tiba-tiba gaduh. Saya sendiri sempat terbelalak dan hanya pasrah.

Kami berenam yang tinggal di dalam ruangan mulai sibuk membolak-balik halaman. Mengingat-ingat catatan. Punya saya sendiri malah nggak lengkap. Beberapa bab belum selesai saya salin. Saya hanya baca apa yang saya punya dari apa yang beliau berikan.

Pertanyaan pertama kepada orang pertama. Dua orang sebelum giliran saya.

Dia menjawab sempurna. Meskipun toh, sore tadi ia juga sama mengeluhnya dengan saya karena belum belajar. Saya yakin, dia sudah belajar beberapa waktu lalu, tapi belum memuaskan menurutnya. Saya mendengus kesal. Dengan jawaban seperti anak SMP yang ditanya satu tambah satu, bohong kalau dia belum belajar sama sekali.

Pertanyaan kedua pun dijawab dengan lancar. Lagi-lagi saya melihat dosen saya menggurat huruf A+ disamping nama teman saya. Saya sempat ingin pura-pura izin ke toilet dan pinjam catatan teman buat belajar bentar. Paling nggak biar saya nggak ndomblong banget pas ditanya. Tapi itu nggak mungkin, habis ini giliran saya. Saya betul-betul kosong mau ngapain.

And, here we go... the most ‘ugh’ moment in ‘waw’ lesson.

Dosen   : “Udzkuri ihda al-hadits!”*
Saya       : “Ayyu hadits in faqod Ustadz?”**
Dosen   : “Na’am. Ayyu hadits in kana.” ***

Oke bagus. Saya tidak pakai metode ini ketika belajar. Saya tidak menargetkan untuk hafal satu hadits dalam urutan yang baik dan tepat. Ah, sudahlah. Apa adanya saja. Pikir saya waktu itu. Saya pun mulai merapalkan satu hadits. Saya sendiri kurang yakin apakah sanad dan matan yang saya sebutkan sesuai. Entahlah, koreksinya nanti saja. Mulut saya sudah bergerak sendiri.

Beberapa pertanyaan seputar hadits yang saya sampaikan bisa saya jawab alakadarnya. Seingat saya, sepaham saya.

Selanjutnya, pertanyaan demi pertanyaan pun bergulir terus kepada teman yang lain. Ada yang bisa di jawab, ada yang tidak. Hanya faktor keberuntungan saja yang saya yakini ada di dalam sana ketika itu.

Waktu UTS telah usai.  KHS pun sampai ditangan. Saya pun segera mencari-cari hasil ‘keberuntungan’ saya beberapa waktu lalu. Dan tertulis A+ disana. Saya masih tidak percaya, membolak-balik KHS. Apa benar ini punya saya? Mungkin ada kesalahan dari BAAK? Ah, saya benar-benar tidak mengerti. Bagaimana bisa tertulis A+ di pelajaran Hadits saya dibanding dengan apa yang saya lakukan beberapa waktu lalu.

Tapi sayang, KHS dan isinya hanya sebatas mimpi saja. Bukan kenyataan nantinya. Lagian, UAS nya belum kan?

Yang saya paham, hari dimana saya sangat bergembira tanpa sebab itu adalah hari ketika saya mengenal jiwa dunia. Jiwa dunia menghibur saya dengan caranya sendiri. Saya bersedih karena saya belum mempersiapkan ujian Hadits dengan baik. Iya, ada beberapa masalah yang telah menguras saya tepat disebelum hari ujian. Tetapi ternyata jiwa dunia sepertinya tak ingin ada satupun anak dunianya tidak bahagia. Jiwa dunia telah menentramkan hati saya. Seolah-olah berkata semua akan baik-baik saja.  Dan jika kita telah mengenal jiwa dunia, maka seluruh elemennya akan membantumu untuk mencairkan kebahagiaan dan membiarkanmu merasakannya.

Hanya dengan mengenal jiwa dunia J

Mufradat :
Imtihan                   : ujian
Sanad                    : riwayat hadits. Hadits ini dari siapa-dari siapa urut sampai Rasullullah S.A.W
Matan                   : isi hadits/hadits itu sendiri. Contohnya Annadzofatu minal iman.

*Sebutkan salah satu hadits
**Hadits yang manapun Ustadz?
***Ya, terserah.

No comments:

Post a Comment