17-2-2014
Hari ini tadzkiroh datang beruntun.
Tiga lembar sekaligus. Totalnya ada 4 pelajaran, ditambah 1 pelajaran hishoh
asli. Semuanya saya terima dengan legawa saja. Nggak ngedumel dan menceracau
seperti teman lainnya. Toh, saya juga sedang sangat mengantuk. Berjalan saja
saya merem melek. Jadi, ketika tadzkiroh sampai di tangan, saya terima nyaris
tanpa komen karena selanjutnya, bruuukkk… saya terlelap.
Malam telah tua ketika saya
terbangun. Tetapi waktu penantian adzan tetap terasa lambat mengalun. Saya putuskan
untuk mulai berjibaku membuat teaching preparation hingga adzan
menjelang. Bertahan, dengan angin yang bergoyang dalam perut. Walaupun kantuk
menggantung, saya tetap menulis, membaca-baca materi yang akan saya sampaikan.
Belajar lagi. Meskipun guru, masih tetap butuh belajar kan?
Saya suka bangun pagi-pagi sekali,
seperti hari ini. Dengan begitu, saya bisa rajin menyapa hari. Saya bisa mandi
dengan tenang dan berkemas tanpa berlari. Hanya saja, kenyataannya adalah saya
sering lupa sarapan. Entahlah, saya sendiri merasa tidak lapar. Kebetulan pula
hari ini anak-anak kamar saya terlambat mengambil jatah makan. Hanya ada nasi
tanpa teman. Saya memutuskan untuk tidak sarapan.
Jam pelajaran pertama datang.
Pelajaran asli.
Nyaris tanpa persiapan. Satu minggu
yang lalu, saya berikan anak didik saya ulangan umum. Sampai hari ini, saya
belum sempat mengoreksi (sebetulnya juga karena saya terlalu cepat tidur
semalam, hehe). Saya hanya sempat memberikan stempel bunga-tanda saya-saja pada
buku mereka.
Selang satu jam pelajaran dan
istirahat, saya kembali masuk kelas. Jam pengganti. Kali ini saya lumayan
menguasai keadaan. Karena saya sering bolak-balik menggantikan guru pengampu
mereka-di kelas yang sama-. Jadi, saya agak nyante dan tau harus dibawa
kemana jam pelajaran ini. Saya pun menyelesaikan satu jam pelajaran dengan
mulus dan sukses.
Dan inilah jam pelajaran paling berat
dan membosankan. Jam ke lima dan enam. Jam siang, dimana tinggal sisa-sisa tenaga
dan pikiran. Presentase kehadiran ruh belajar menguap. Walau begitu, saya tetap
semangat. Saya selalu teringat pesan pondok yang ini:
من
أكثر فعلا أكثر جزاء
Siapa yang banyak
berbuat, banyak pula balasan (pahalanya). Insya Allah.
Santai, saya membawa sepeda pinjaman
dari senior untuk ke kelas yang letaknya lumayan jauh. Saya sengaja datang pada
waktu maksimum toleransi kedatangan. Kebetulan pula, petugas jadwal keliling
adalah teman satu kamar. Jadi, masuk kelasnya ntar-ntar aja lah. :p
Sesampainya di gedung kelas, saya
baru tahu. Rupanya saya menggantikan ibu-ibu madamat. Dan Alhamdulillah-nya,
ibu tersebut telah anteng di dalam kelas sedang mengajar calon kelas yang akan
saya masuki. Yeah!
Masih ada satu jam lagi, pikir saya. Saya menunggu dengan
membaca-baca. Ketika bel pergantian pelajaran berbunyi, saya segera menuju
kelas berikutnya. Saya berpapasan dengan ibu-ibu madamat tadi dan hey!
Bukankah jam ini saya juga menggantikan beliau di kelas yang berbeda?
“Lho, Ustadzah, ayyu fashlin
satadkhulin?” –anda
masuk kelas berapa?-. Rupanya petugas jadwal keliling sudah hafal dengan para
pengajar di gedung ini. Saya, yang pendatang baru pasti tidak dikenali mengajar
di sini. Tidak ada lagi kelas yang kosong. Semua pengajar sudah bersiap masuk
di depan kelas masing-masing. Jadi, untuk apa saya di sini?
Saya buru-buru menggeleng. Menuntun
sepeda dan mundur pulang. Saya mesem-mesem sepanjang perjalanan. Betapa bahagia
tidak jadi mengajar di siang terik ini.
Hari ini, saya menerima tadzkiroh
yang setumpuk itu dengan ikhlas, dan batal mengajar dengan ikhlas.
:D
No comments:
Post a Comment