A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Tuesday, March 18, 2014

Sajak Saya Lebih Memilih



Saya lebih memilih berjalan kaki, jika memang bermotor dan bersepeda membuat orang tidak mau menyapa orang lain yang lewat tepat disebelahnya.

Saya lebih memilih berada di sektor yang biasa saja, tapi penuh rasa kekeluargaan dan kasih sayang, dari pada berada di sektor mentereng dan bersama orang keren tapi tak ada benang merah yang menyatukannya

Saya lebih memilih kuliah dalam pondok, daripada keluar pondok dan mencari kampus lain yang belum jelas kualifikasinya. Jika di pondok, saya menjadi guru, ples mahasiswi, ples pembimbing kamar, konsulat, bagian, ples asisten kelas, dan otomatis santri juga. Di luar pondok, kalopun saya ingin kerja part time misalnya, bisa jadi saya mengajar lagi kan? Sama saja lah.

Saya lebih memilih mengajar tanpa bayaran, daripada mengajar dengan bayaran tetapi anak-anak didik berlaku seperti kurang didikan. Jika guru dibayar, anak bisa menuntut hak dan perlakuan lebih, karena ia ‘membayar’ gurunya. Tetapi, jika guru tidak dibayar, maka ketika anak berlaku kurang ajar pada sang guru, punya apa ia untuk membela? Bahkan ia bukannya membayar, tetapi terus diberi.

Saya lebih memilih diam, jika dalam diam terdapat emas. Jika dengan diam saya lebih bisa menguasai emosi. Karena ketika marah dan menahan pedas, kondisi kita hampir sama. Bagaimana ekspresi kita ketika kepedasan adalah perwujudan gejolak marah yang tertumpahkan.

*Ini enam point pertama saya dalam sajak ‘saya lebih memilih’. Bagaimana dengan anda?


No comments:

Post a Comment