Saya lebih memilih berjalan kaki, jika memang bermotor dan
bersepeda membuat orang tidak mau menyapa orang lain yang lewat tepat
disebelahnya.
Saya lebih memilih berada di sektor yang biasa saja, tapi penuh
rasa kekeluargaan dan kasih sayang, dari pada berada di sektor mentereng dan
bersama orang keren tapi tak ada benang merah yang menyatukannya
Saya lebih memilih kuliah dalam pondok, daripada keluar pondok dan
mencari kampus lain yang belum jelas kualifikasinya. Jika di pondok, saya
menjadi guru, ples mahasiswi, ples pembimbing kamar, konsulat, bagian, ples asisten
kelas, dan otomatis santri juga. Di luar pondok, kalopun saya ingin kerja part
time misalnya, bisa jadi saya mengajar lagi kan? Sama saja lah.
Saya lebih memilih mengajar tanpa bayaran, daripada mengajar dengan
bayaran tetapi anak-anak didik berlaku seperti kurang didikan. Jika guru
dibayar, anak bisa menuntut hak dan perlakuan lebih, karena ia ‘membayar’
gurunya. Tetapi, jika guru tidak dibayar, maka ketika anak berlaku kurang ajar
pada sang guru, punya apa ia untuk membela? Bahkan ia bukannya membayar, tetapi
terus diberi.
Saya lebih memilih diam, jika dalam diam terdapat emas. Jika dengan
diam saya lebih bisa menguasai emosi. Karena ketika marah dan menahan pedas,
kondisi kita hampir sama. Bagaimana ekspresi kita ketika kepedasan adalah
perwujudan gejolak marah yang tertumpahkan.
*Ini enam point pertama saya dalam sajak ‘saya lebih memilih’. Bagaimana dengan anda?
No comments:
Post a Comment