A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Monday, February 3, 2014

Menilik Pondok dari Kacamata Nilai-nilai


BAB I
PENDAHULUAN
Pesantren telah muncul jauh sebelum Indonesia merdeka, namun keberadaannya hampir terlupakan. Padahal, dari pesantren lah muncul cikal bakal pendidikan berkarakter Indonesia.
Dewasa ini, pondok pesantren tak lagi terkesan reaktif emosional isolatif sebagaimana pada zaman penjajahan atau di awal kemerdekaan dahulu, tapi lebih bersifat akomodatif bervisi ke depan. Artinya, sebagai representasi lembaga pendidikan islam khas Indonesia, institusi pesantren sudah bukan zamannnya lagi kalau misi yang diemban cuma sebatas proteksi diri dan pewarisan tradisi. Sehingga, lulusannya nantinya tidak cuma berperan sebagai penonoton di perhelatan nasional atau paling banter tampil di akhir upacara mengamini semua keputusan.
Saat ini pun, sekolah baru berlabel islam terpadu atau unggulan mirip asrama semakin menjamur. Ruh pendidikannya tetap tak jauh berbeda. Dengan jiwa keikhlasan dan kesederhanaan mengarah pada kemandirian individual. Apalagi arti belajar sekarang ini bukan sekedar learning how to know, tapi juga learning how to do,how to be and how to live together. Maka nilai produk, yaitu keunggulan kompetensi diri lebih dikedepankan daripada ijazah formalnya. Nilai-nilai kemanusiaan ini yang sekarang sedang sibuk digali sebetulnya telah ada dan  bersumber dari ajaran Islam. Dimana nilai-nilai tersebut telah menjadi tradisi pesantren.
Pendidikan berkarakter bukan didapat lewat pengajaran klasikal di kelas-kelas. Karena untuk membangun karakter bangsa perlu pendidikan yang terimplementasi dalam apa yang dilihat, dilihat, didengar, dirasakan anak. Kesemuanya harus memenuhi nilai-nilai pendidikan.

BAB II
NILAI-NILAI yang MENGANDUNG PENDIDIKAN DALAM DINAMIKA PONDOK PESANTREN
§ Nilai Keikhlasan
Nilai keikhlasan dapat ditemukan pada :
ü  Mengantri (makan, mandi, di ADM, dan lain-lain)
ü  Mendapat hukuman (‘iqob) dari Bagian Kehakiman OPPM/KOORD
ü  Belajar jauh dari orang tua dan keluarga, berbulan-bulan lamanya tidak pulang, tidak dikunjungi
ü  Bangun pada pagi buta untuk pergi ke masjid

§ Nilai Kesederhanaan

Nilai Kesederhanaan nampak pada :

ü  Kerudung yang dikenakan sama, putih-polos. Bukan kerudung bergo/ paris/ phasmina/ shawl
ü  Baju yang dibawa dibatasi 6 stel per orang
ü  Lauk-pauk sederhana, tidak daging setiap hari. Yang penting cukup gizi. Sesekali makan enak untuk penambahan gizi dan selingan saja.
ü  Berangkat ke sekolah jalan kaki
ü  Mukena yang dipakai putih, tidak warna-warni

§ Nilai Berdikari

Nilai berdikari, terimplementasi dalam :

ü  Belajar mengurus dirinya sendiri
ü  Memenuhi kebutuhannya sendiri
ü  Menolong dirinya sendiri
ü  Belajar untuk tidak terlalu bergantung pada orang-tua (tidak sering dijenguk)
§ Nilai Berpikiran Bebas
            Gontor menanamkan cara berpikir bebas kepada santrinya. Dalam konteks ini, berpikiran bebas dimaksudkan dengan berfikir ke segala arah, ke segala penjuru dengan arti tidak memihak kepada suatu golongan saja. Hal ini sesuai dengan motto pondok untuk ‘berdiri di atas dan untuk semua golongan’.
§ Nilai Ukhuwah Islamiyyah
            Kehidupan pondok ibarat keluarga. Kelas 6 adalah anak yang tertua, diikuti kemudian kelas 5, kelas 4, kelas 3 intensive dan seterusnya. Maka jika anak yang lebih besar mempunyai hajat atau acara, sudah selayaknya adik-adiknya membantu. Begitu juga sebaliknya. Jika sang adik melakukan kesalahan, maka sang kakak lah yang mengingatkan, membenarkan, meluruskan, dan sebaliknya. Jika yang lebih kecil mengalami kesulitan belajar, maka yang lebih besar membantunya dalam belajar.
            Ibaratnya, teman samping lemari kita adalah tetangga kita. Teman satu kamar kita sama dengan tetangga satu kompleks/satu perumahan. Maka dipilih lah ketua kamar sebagai ‘Ketua RT’. Cakupannya lebih luas jika satu rayon-layaknya satu kecamatan. Maka dipilih lah Ketua Rayon sebagai ‘Ketua Kecamatan’ nya, dan seterusnya. Maka, pondok ini bagaikan miniatur kecil dari masyarakat, masyarakat yang islami (الإسلامي  (المجتمع
§  Nilai Kaderisasi
            “Seorang pemimpin, tidak disebut sukses jika belum bisa mencetak pemimpin”. Itulah mengapa setiap kegiatan atau organisasi-organisasi yang ada di pondok ikut melibatkan ‘anggota prematur’ nya. Supaya kepengurusan nanti dapat mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari apa yang telah ia rasakan sebelumnya. Dengan begitu, ia bisa memilah dan memilih, mana segi positif yang harus tetap dilaksanakan dan mana segi negative yang harus ditinggalkan.
 v  Kegiatan-kegiatan/substansi kegiatan pondok yang mendukung pendidikan :
Ø  Ketua
Dengan menjadi ketua, anak belajar menjadi qudwah hasanah kapanpun dan dimanapun. Solah menjadi public figure yang kemanapun disorot. Berusaha menjadi manusia tanpa cela dipandangan anggotanya dan juga belajar melayani ummat.
Ø  Bagian Kehakiman
       Lewat Bagian kehakiman, anak dituntut menjadi orang yang berlaku adil, bijaksana, mengayomi dan menjadi penengah.
Ø  Bagian Penerangan
Bagian Penerangan, diibaratkan dengan orang yang selalu menghibur, menyampaikan berita gembira, dan menjadi orang yang berkata baik.
Ø  Pidato (Muhadloroh)
Inilah salah satu ajang berlatih menjadi singa. Bagaimana kita bisa menjadi singa yang mengaum lantang di masyarakat lewat dakwah-dakwah.  Dengan pidato pula, anak dapat belajar menghadapi masyarakat dengan dirinya sebagai tokoh sentralnya.
Ø  Kepramukaan (Kasyafah)
Pramuka menjadi jalan keluar bagi anak-anak yang mempunyai ‘tenaga berlebih’ untuk menyalurkan kemampuannya. Dalam pramuka anak bisa lebih bebas berekspresi. Karena dalam pramuka terdapat beberapa aspek yang tidak ada dalam kurikulum kelas maupun rayon. Hal ini menjadikan lebih banyak ‘gesekan-gesekan’ yang terjadi dan saling singgung satu sama lain dan menjadikan pramuka lebih luwes dalam pemndidikan anak.
Ø  Pengajar Pelajaran Sore
Menjadi pengajar pelajaran sore seperti simulasi menjadi pengajar hakiki. Dimana pengajar adalah pengantar risalah kenabian yang mempunyai andil besar dalam proses pendidikan.
Ø  Dhoribatul Jaros
Ketika menjadi pemukul jaros, anak diberi tanggung jawab untuk menjadi jantung penggerak seluruh aktivitas pondok. Anak diberi kepercayaan besar dengan menjadi zero point, titik acuan pergantian pekerjaan.

BAB III
PENUTUP
            Sebagai penutup, kami sampai pada kesimpulan;
أن يكون كل ما نراه التلميذات وما يسمعنه وما يشعرنه كلها عامل من عوامل التربية
Yang mana kesemua nilai-nilai harus terimplementasi dalam kegiatan sehari-hari dan tercermin pada keluhuran akhlaqnya.





No comments:

Post a Comment