Pemilu tahun ini baru untuk
saya. Kebetulan pula, saya berada di pondok ketika hari H pesta demokrasi
rakyat tersebut. Walhasil, coblosan pun diadakan di Ngawi. Untungnya sih di
pondok disediakan Tempat Pemilihan Umum. Jadi kami nggak perlu ribet
kemana-mana buat satu hari penentuan ini.
Kepastian menjadi DPT
sebetulnya belum ada. Kami sih husnudzon saja sudah terdaftar. Karena
memang sudah ada bagian yang mengurusi dan mendata kami. Selanjutnya, tidak
pernah terdengar seseorang yang meributkan soal ini.
H-1 malam, kami dikumpulkan
oleh dewan asatidz. Beliau memberikan pengarahan singkat tentang pemilihan esok
hari. Surat undangan dibagikan saat itu juga. Tapi saat itu juga saya kecewa.
Karena tidak ada selembar surat pun yang sampai di tangan saya. Saya menengok
sekeliling. Masih ada sekitar 80 orang seperti saya. Tidak ada surat undangan
atas nama diri sendiri. Mengapa bisa begini?
Senior mengatakan sebagai
perwakilan, bahwa memang terdapat beberapa orang yang tidak ditemukan namanya
dalam surat undangan. Senior menganjurkan untuk memakai surat yang ada terlebih
dahulu, meskipun bukan atas ama diri sendiri.
“Bisa juga bagi yang tidak
mendapat surat undangan, boleh memakai kartu identitas seperti KTP atau KTM.
Tetapi waktu pemilihannya di atas jam 12 siang.”
Asatidz pun mengatakan hal
yang serupa. Saya pun lega. Paling nggak, saya nggak golput cuma gara-gara
nggak dapet surat undangan. Besok, akan jadi hari yang hebat karena suara saya
sudah mulai diakui. Saya sudah dianggap sah sebagai warga negara. Yeah, asik
banget nih jadi anak 20-an.
Esoknya, dari jam pelajaran
pertama, pondok sudah mulai dibuat repot. Satu per satu anak-anak yang cukup
umur digilir menuju ke TPU untuk menetukan hak pilih. Namun, bukan Gontor
namanya jika meliburkan KBM tanpa jadwal. Kelas tetap masuk seperti biasa, bahkan
di beberapa kelas diadakan praktek mengajar yang memang kebetulan bebarengan
dengan saat-saat seperti ini. Sekilas, seolah saya bisa menemukan dua suasana
yang berbeda dengan sekali kejapan mata.
Saya sendiri terjadwal untuk
nyoblos setelah jam 12. Teman-temanlain
yang sudah menunaikan haknya tersenyum senang bercampur bingung. Habisnya,
memang kami tidak ada yang kenal dengan para caleg tersebut.
Lhah, terus? Milihnya
gimana?
Kami memilih sesuai
kepercayaan masing-masing. Kami memilih dengan hati tapi nyoblosnya tetep pake
paku.
Yah, ngasal dong?
Nggak juga. Kami toh memang
nggak kenal beliau-beliau, tapi kami kenal air mukanya. Kami sudah kenyang
dengan beragam sifat orang di pondok ini. Jadi, kami sudah terbiasa membaca
orang hanya dari wajah saja. Kita bisa mengira-ngira bagaimana dia. Selebihnya,
kami percayakan Allah yang menggerakkan kemana tangan kami berhenti untuk
memilih.
Dan ketika adzan dzuhur
telah lewat 15 menit an, saya menuju TPS bersama senior yang bernasib sama
dengan saya. Kami masuk ke salah satu TPS dan melaporkan keadaan kami.
“Maaf mbak, prosedur bagi
yang nggak dapet surat gimana ya mba?” Saya mengerjap-ngerjap, pura-pura bego.
Mba-mba(entah ibu-ibu)
mengernyit memandang kami. “Kok bisa sih mba nya nggak dapet surat?”
“Uh, eh.. emm kurang tau
mba. Tapi kami dapat informasi boleh pake kartu tanda pengenal lain gitu kan?”
Saya coba nyengir.
“Kok..? Nggak boleh mba.
Berarti mba nggak terdaftar. Ya kan pak?” mba-mba itu menoleh ke bapak-bapak
lain yang ada dalam ruangan. Mukanya masih nggak enak.
“Kenapa mba?” Bapak tersebut
membetulkan letak kaca matanya.
“Ini, masa ada mba-mba
santri nggak dapet surat mau nyoblos. Piye jal?” Saya menelan ludah. Sebenarnya
ada apa ini?
“Nggak boleh ya, Pak?” teman
saya angkat bicara.
“Yaa.. nggak boleh. Atau mba
ke balai desa aja dulu. Ntar biar diproses di sana.” Nah, gini dong.
Bapak-bapak nya ngasih solusi, nggak cuma tanya kenapa.
Tapi.. ke balai desa? Nah,
lo. Kok jadi panjang urusannya? Bukannya sudah ada kesepakatan seperti yang
semalam saya dengar?
“Gimana mba? Mau ngurus ke
balai desa?” Saya tanya senior yang bersama saya.
“Nggak ah. Kita tanya sama ustadz aja dulu.”
Tapi ternyata, asatidz pun
juga tidak tahu-menahu tentang ini. Kenapa sekarang, di jam yang telah
ditentukan tidak dapat dibuktikan?
Para ustadz terlihat coba
menego petugas. Sibuk menelpon pak nganu dan pak anu. Jika seperti ini
keadaannya, seperti tidak pernah terjadi kesepakatan yang terucap. Satu pihak
sibuk meyakinkan, yang lain sibuk menaati peraturan.
Sekitar setengah jam saya
menunggu kepastian. Senior saya malah sudah duluan masuk dan menggunakan hak
pilihnya dengan surat atas nama orang lain. Saya masih keukeuh ingin memakai
nama sendiri. Tinggal 3 menit lagi sebelum TPS ditutup. Saya mulai gusar.
“Yaudah lah dek, pake aja
itu surat yang ada. Dari pada suaranya diperjual-belikan. Jangan-jangan malah
dibeli sama partai yang cuma gede modal doang. Dari pada golput juga kan. Insya
Allah nggak papa. Banyak yang kaya gini kok dek. Bismillah deh.”
Saya menimbang-nimbang. Iya
juga sih. Saya nggak mau, saya yang punya kesempatan malah membiarkan suara
orang lain dijual. Mending dipake, buat milih yang bener. Saya niati ini
sebagaibagian dari ijtihad. Dimana jika kita telah memutuskan dan
keputusan tersebut benar, maka akan ada dua pahala. Tapi toh jika kita telah
memutuskan dan keputusan itu salah,
masih dihitung dapat pahala satu. Masalah kepada siapa pahala tersebut
disematkan, apakah saya ataukah nama yang saya pakai, itu terserah Allah. Saya
yakin, balasan Allah nggak akan tertukar.
Bismillah, saya pakai nama yang
ada di tangan. Saya maju, dan langsung masuk bilik. Saya mulai buka satu
persatu lipatan dan sumpah.. saya pengin muntah saat melihat foto-foto para
caleg. Mayoritas terlihat ‘nggak enak’ bahkan ‘b***k’. Emang kok. Ini wakil
rakyat jarang yang bener. Nggak semuanya dari orang bae-bae. Dari muka aja udah
keliatan, berasa aura nge-eneg-in nya.
Saya nggak perlu waktu lama
untuk memilih, meskipun saya juga nggak kenal sama beliau-beliau ini. Saya
sudah punya scale of priority, about how to determine the parties.
Akhirnya, saya nggak jadi
golput cuman gegara digantungin boleh-nggak nya pake KTP doang. Yah.. saya lega
sudah berusaha
Asatidz : bentuk jamak dari ustadz. Oya, jamak dalam bahasa
arab itu mulai dari 3 ke atas.
Ijtihad : kegiatan yang dilakukan para ulama/ahli
fiqh untuk memutuskan hukum terhadap suatu masalah kontemporer.
No comments:
Post a Comment