A Journey to Remember

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Thursday, April 10, 2014

Tuhan Tidak Akan Salah


Pemilu tahun ini baru untuk saya. Kebetulan pula, saya berada di pondok ketika hari H pesta demokrasi rakyat tersebut. Walhasil, coblosan pun diadakan di Ngawi. Untungnya sih di pondok disediakan Tempat Pemilihan Umum. Jadi kami nggak perlu ribet kemana-mana buat satu hari penentuan ini.

Kepastian menjadi DPT sebetulnya belum ada. Kami sih husnudzon saja sudah terdaftar. Karena memang sudah ada bagian yang mengurusi dan mendata kami. Selanjutnya, tidak pernah terdengar seseorang yang meributkan soal ini.

H-1 malam, kami dikumpulkan oleh dewan asatidz. Beliau memberikan pengarahan singkat tentang pemilihan esok hari. Surat undangan dibagikan saat itu juga. Tapi saat itu juga saya kecewa. Karena tidak ada selembar surat pun yang sampai di tangan saya. Saya menengok sekeliling. Masih ada sekitar 80 orang seperti saya. Tidak ada surat undangan atas nama diri sendiri. Mengapa bisa begini?

Senior mengatakan sebagai perwakilan, bahwa memang terdapat beberapa orang yang tidak ditemukan namanya dalam surat undangan. Senior menganjurkan untuk memakai surat yang ada terlebih dahulu, meskipun bukan atas ama diri sendiri.

“Bisa juga bagi yang tidak mendapat surat undangan, boleh memakai kartu identitas seperti KTP atau KTM. Tetapi waktu pemilihannya di atas jam 12 siang.”

Asatidz pun mengatakan hal yang serupa. Saya pun lega. Paling nggak, saya nggak golput cuma gara-gara nggak dapet surat undangan. Besok, akan jadi hari yang hebat karena suara saya sudah mulai diakui. Saya sudah dianggap sah sebagai warga negara. Yeah, asik banget nih jadi anak 20-an.

Esoknya, dari jam pelajaran pertama, pondok sudah mulai dibuat repot. Satu per satu anak-anak yang cukup umur digilir menuju ke TPU untuk menetukan hak pilih. Namun, bukan Gontor namanya jika meliburkan KBM tanpa jadwal. Kelas tetap masuk seperti biasa, bahkan di beberapa kelas diadakan praktek mengajar yang memang kebetulan bebarengan dengan saat-saat seperti ini. Sekilas, seolah saya bisa menemukan dua suasana yang berbeda dengan sekali kejapan mata.

Saya sendiri terjadwal untuk nyoblos  setelah jam 12. Teman-temanlain yang sudah menunaikan haknya tersenyum senang bercampur bingung. Habisnya, memang kami tidak ada yang kenal dengan para caleg tersebut.

Lhah, terus? Milihnya gimana?

Kami memilih sesuai kepercayaan masing-masing. Kami memilih dengan hati tapi nyoblosnya tetep pake paku.

Yah, ngasal dong?

Nggak juga. Kami toh memang nggak kenal beliau-beliau, tapi kami kenal air mukanya. Kami sudah kenyang dengan beragam sifat orang di pondok ini. Jadi, kami sudah terbiasa membaca orang hanya dari wajah saja. Kita bisa mengira-ngira bagaimana dia. Selebihnya, kami percayakan Allah yang menggerakkan kemana tangan kami berhenti untuk memilih.

Dan ketika adzan dzuhur telah lewat 15 menit an, saya menuju TPS bersama senior yang bernasib sama dengan saya. Kami masuk ke salah satu TPS dan melaporkan keadaan kami.

“Maaf mbak, prosedur bagi yang nggak dapet surat gimana ya mba?” Saya mengerjap-ngerjap, pura-pura bego.

Mba-mba(entah ibu-ibu) mengernyit memandang kami. “Kok bisa sih mba nya nggak dapet surat?”

“Uh, eh.. emm kurang tau mba. Tapi kami dapat informasi boleh pake kartu tanda pengenal lain gitu kan?” Saya coba nyengir.

“Kok..? Nggak boleh mba. Berarti mba nggak terdaftar. Ya kan pak?” mba-mba itu menoleh ke bapak-bapak lain yang ada dalam ruangan. Mukanya masih nggak enak.

“Kenapa mba?” Bapak tersebut membetulkan letak kaca matanya.

“Ini, masa ada mba-mba santri nggak dapet surat mau nyoblos. Piye jal?” Saya menelan ludah. Sebenarnya ada apa ini?

“Nggak boleh ya, Pak?” teman saya angkat bicara.

“Yaa.. nggak boleh. Atau mba ke balai desa aja dulu. Ntar biar diproses di sana.” Nah, gini dong. Bapak-bapak nya ngasih solusi, nggak cuma tanya kenapa.

Tapi.. ke balai desa? Nah, lo. Kok jadi panjang urusannya? Bukannya sudah ada kesepakatan seperti yang semalam saya dengar?

“Gimana mba? Mau ngurus ke balai desa?” Saya tanya senior yang bersama saya.

“Nggak ah.  Kita tanya sama ustadz aja dulu.”

Tapi ternyata, asatidz pun juga tidak tahu-menahu tentang ini. Kenapa sekarang, di jam yang telah ditentukan tidak dapat dibuktikan?

Para ustadz terlihat coba menego petugas. Sibuk menelpon pak nganu dan pak anu. Jika seperti ini keadaannya, seperti tidak pernah terjadi kesepakatan yang terucap. Satu pihak sibuk meyakinkan, yang lain sibuk menaati peraturan.

Sekitar setengah jam saya menunggu kepastian. Senior saya malah sudah duluan masuk dan menggunakan hak pilihnya dengan surat atas nama orang lain. Saya masih keukeuh ingin memakai nama sendiri. Tinggal 3 menit lagi sebelum TPS ditutup. Saya mulai gusar.

“Yaudah lah dek, pake aja itu surat yang ada. Dari pada suaranya diperjual-belikan. Jangan-jangan malah dibeli sama partai yang cuma gede modal doang. Dari pada golput juga kan. Insya Allah nggak papa. Banyak yang kaya gini kok dek. Bismillah deh.”

Saya menimbang-nimbang. Iya juga sih. Saya nggak mau, saya yang punya kesempatan malah membiarkan suara orang lain dijual. Mending dipake, buat milih yang bener. Saya niati ini sebagaibagian dari ijtihad. Dimana jika kita telah memutuskan dan keputusan tersebut benar, maka akan ada dua pahala. Tapi toh jika kita telah memutuskan dan  keputusan itu salah, masih dihitung dapat pahala satu. Masalah kepada siapa pahala tersebut disematkan, apakah saya ataukah nama yang saya pakai, itu terserah Allah. Saya yakin, balasan Allah nggak akan tertukar.

Bismillah, saya pakai nama yang ada di tangan. Saya maju, dan langsung masuk bilik. Saya mulai buka satu persatu lipatan dan sumpah.. saya pengin muntah saat melihat foto-foto para caleg. Mayoritas terlihat ‘nggak enak’ bahkan ‘b***k’. Emang kok. Ini wakil rakyat jarang yang bener. Nggak semuanya dari orang bae-bae. Dari muka aja udah keliatan, berasa aura nge-eneg-in nya.

Saya nggak perlu waktu lama untuk memilih, meskipun saya juga nggak kenal sama beliau-beliau ini. Saya sudah punya scale of priority, about how to determine the parties.

Akhirnya, saya nggak jadi golput cuman gegara digantungin boleh-nggak nya pake KTP doang. Yah.. saya lega sudah berusaha

Mufradat :
Asatidz : bentuk jamak dari ustadz. Oya, jamak dalam bahasa arab itu mulai dari 3 ke atas.
Ijtihad   : kegiatan yang dilakukan para ulama/ahli fiqh untuk memutuskan hukum terhadap suatu masalah kontemporer.








No comments:

Post a Comment